Ceritra
Ceritra Update

Dari Ketakutan Menjadi Keahlian, Sejarah Panjang Desa Wisata Gerabah Kasongan

Refa - Wednesday, 17 December 2025 | 09:40 AM

Background
Dari Ketakutan Menjadi Keahlian, Sejarah Panjang Desa Wisata Gerabah Kasongan
Desa Wisata Kasongan, Yogyakarta (yogyakarta.panduanwisata.id/)

Jika Jepang memiliki Okawachiyama sebagai desa porselen yang sunyi di pegunungan, Indonesia memiliki Kasongan yang hangat dan hidup di dataran Bantul.

Terletak sekitar 6 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Yogyakarta, Kasongan bukan sekadar pasar kerajinan. Ini adalah sebuah galeri raksasa yang hidup, di mana tanah liat disulap menjadi emas oleh tangan-tangan terampil warga setempat selama ratusan tahun.

Memasuki gerbang desa ini, pengunjung langsung disambut oleh pemandangan yang tak biasa. Kanan-kiri jalan dipenuhi oleh ribuan gerabah berbagai ukuran, mulai dari guci setinggi manusia, patung Loro Blonyo yang ikonik, hingga pot-pot mungil yang estetik. Aroma tanah basah dan asap pembakaran kayu sering kali tercium samar, menjadi penanda bahwa kehidupan di sini berputar di sekitar tungku dan lempung.

Bermula dari Matinya Seekor Kuda

Sejarah Kasongan tidak lepas dari legenda kelam masa penjajahan Belanda. Konon, nama desa ini diambil dari nama seorang sesepuh tanah setempat, Kyai Song.

Alkisah, seekor kuda milik reserse Belanda ditemukan mati di tanah milik warga. Karena takut dituduh dan dihukum oleh penjajah, warga setempat akhirnya melepaskan hak kepemilikan tanah sawah mereka. Karena tidak lagi memiliki lahan pertanian, mereka banting setir menjadi pengrajin gerabah untuk bertahan hidup, memanfaatkan tanah liat sungai yang melimpah di sana.

Siapa sangka, keputusan putus asa ratusan tahun lalu itu kini justru melahirkan salah satu pusat kerajinan terbesar di Asia Tenggara.

Revolusi dari Kuali Menjadi Seni

Dulu, Kasongan hanya dikenal sebagai pembuat alat dapur sederhana seperti kuali (wajan tanah), gentong air, dan anglo (kompor arang). Barang-barang ini fungsional, tapi murah dan mudah pecah.

Wajah Kasongan berubah total pada era 1970-an. Seniman besar Yogyakarta, Sapto Hudoyo, masuk ke desa ini dan memberikan sentuhan seni modern.

Para pengrajin diajarkan untuk tidak hanya membuat panci, tapi juga membuat patung, guci bermotif timbul, dan dekorasi interior yang bernilai seni tinggi. Sejak saat itu, gerabah Kasongan naik kelas. Dari yang tadinya hanya dijual di pasar tradisional, kini produk mereka diekspor hingga ke Eropa dan Amerika.

Berburu Harta Karun di Lorong Desa

Daya tarik utama Kasongan bagi wisatawan modern adalah sensasi "berburu harta karun". Berbeda dengan toko modern yang rapi, sensasi belanja di Kasongan adalah menelusuri lorong-lorong sempit yang dipenuhi tumpukan barang.

Di sini, wisatawan bisa menemukan Guci Mozaik yang ditempeli pecahan kaca warna-warni atau Patung Budha dengan finishing kasar (rustic) yang sangat diminati kafe-kafe kekinian.

Bagi pecinta tanaman, Kasongan adalah surga. Pot terakota dengan warna merah bata alami dijual dengan harga yang sangat terjangkau dibandingkan di art shop tengah kota. Ketidaksempurnaan warna akibat pembakaran tradisional justru menjadi nilai estetik yang dicari karena memberikan kesan natural dan wabi-sabi.

Wisata Edukasi Tangan Kotor

Tak hanya belanja, Kasongan kini bertransformasi menjadi desa wisata edukasi. Banyak sanggar yang membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar memutar meja putar (wheel throwing).

Merasakan sensasi dinginnya tanah liat di telapak tangan, mencoba membentuk sebuah mangkuk, lalu melihatnya gagal dan penyok, adalah pengalaman yang mengajarkan kesabaran. Di Kasongan, tanah bukan hanya dipijak, tapi dihargai sebagai sumber kehidupan yang tak ternilai.

Logo Radio
🔴 Radio Live