Cara Komunikasi Dewasa Adalah Cerminan Didikan Masa Kecil
Refa - Friday, 02 January 2026 | 10:30 AM


Kesulitan menyampaikan pendapat atau kecenderungan meledak saat marah sering kali dianggap sebagai karakter bawaan sejak lahir yang tidak bisa diubah. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, gaya komunikasi seseorang saat dewasa merupakan warisan langsung yang dibentuk dari pola asuh orang tua selama bertahun-tahun di rumah.
Cara orang tua berinteraksi dengan anak ibarat sebuah naskah drama yang direkam ke dalam alam bawah sadar. Rekaman inilah yang kemudian diputar ulang secara otomatis ketika sang anak tumbuh dewasa dan menghadapi konflik dengan pasangan atau rekan kerja. Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan di mana emosi divalidasi dan didengarkan akan tumbuh menjadi komunikator yang asertif. Mereka percaya bahwa suara mereka berharga dan perasaan orang lain perlu dihargai, sehingga dialog dua arah dapat berjalan dengan sehat tanpa rasa takut dihakimi.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter atau pengabaian sering kali mengalami kesulitan verbal yang signifikan. Jika di masa kecil perbedaan pendapat selalu dibalas dengan bentakan atau hukuman, otak akan memproses kejujuran sebagai sesuatu yang berbahaya. Akibatnya, individu tersebut tumbuh menjadi orang yang gemar memendam masalah (silent treatment) atau justru menjadi agresif karena tidak tahu cara lain untuk didengar selain dengan berteriak. Mekanisme pertahanan diri di masa kecil ini terbawa hingga dewasa, menciptakan tembok tebal yang menghambat kedalaman hubungan interpersonal.
Pola penyelesaian konflik orang tua juga menjadi cetak biru yang ditiru mentah-mentah. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya saling menyalahkan tanpa mencari solusi akan menganggap bahwa menang dalam perdebatan lebih penting daripada memahami masalah. Mereka tidak memiliki referensi visual tentang bagaimana sebuah diskusi panas bisa diakhiri dengan kesepakatan damai. Ketiadaan contoh nyata tentang kompromi membuat banyak orang dewasa gagap ketika harus menurunkan ego demi kebaikan bersama dalam sebuah hubungan.
Memutus rantai pola komunikasi yang buruk ini bukanlah hal yang mustahil, meskipun membutuhkan usaha keras. Langkah pertamanya adalah menyadari bahwa cara bicara hari ini mungkin hanyalah respons trauma masa lalu, bukan jati diri yang sebenarnya. Belajar kembali untuk mendengarkan, menahan diri untuk tidak defensif, dan berani terbuka adalah keterampilan baru yang bisa dilatih. Mengubah gaya komunikasi berarti menulis ulang naskah hidup agar tidak mewariskan kebingungan yang sama kepada generasi berikutnya.
Next News

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 7 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 6 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 5 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 5 hours

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
in 6 hours

Kupas Tuntas Penyebab Kebocoran Halus pada Ban Tubeless yang Sering Luput dari Pandangan
in 5 hours

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 5 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 4 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 4 hours

Bukan Sekadar Ibadah, Begini Uniknya Cara Orang Indonesia Merayakan Isra’ Mi’raj
in 4 hours






