Ceritra
Ceritra Warga

Capek Mental Tapi Bukan Fisik, Ini Tanda yang Sering Diabaikan

Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 07:00 PM

Background
Capek Mental Tapi Bukan Fisik, Ini Tanda yang Sering Diabaikan
Ilustrasi Capek Mental (Pinterest/Freepik)

Seharian hanya duduk diam di depan laptop, tidak mengangkat beban berat, tapi saat sore menjelang, rasanya energi terkuras habis seperti baru saja mendaki gunung. Pernah merasakannya?

Seringkali, kondisi ini disalahartikan sebagai rasa malas. Padahal, ada perbedaan besar antara lelah fisik dan lelah mental (mental fatigue). Jika lelah fisik obatnya adalah tidur, lelah mental seringkali tidak hilang meski sudah istirahat seharian. Ini adalah sinyal bahwa "baterai" di kepala sedang merah menyala.

Berikut adalah tanda-tanda halus bahwa jiwa sedang meminta jeda, namun seringkali diabaikan karena dianggap hal biasa.

Kenapa hal sepele tiba-tiba jadi sangat menyebalkan?

Tumpahan air sedikit di meja, suara kunyahan orang makan, atau internet yang melambat dua detik. Di hari biasa, hal-hal ini mungkin hanya gangguan kecil. Tapi saat mental sedang lelah, hal remeh ini bisa memicu amarah yang meledak atau rasa ingin menangis.

Ini bukan tanda seseorang berubah menjadi sensitif atau cengeng. Ini adalah tanda bahwa "sumbu sabar" sudah habis. Otak sudah terlalu penuh memproses beban pikiran, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk menoleransi ketidaknyamanan kecil. Ibarat gelas yang sudah penuh air, tetesan kecil terakhir pun akan membuatnya tumpah.

Berniat istirahat, kok malah 'scroll' HP sampai pagi?

Logikanya, saat capek, seseorang akan langsung memejamkan mata. Tapi fenomena aneh justru sering terjadi. Tubuh sudah rebahan, mata perih, tapi jempol terus bergerak menggulir layar ponsel tanpa tujuan sampai larut malam.

Fenomena ini dikenal sebagai Revenge Bedtime Procrastination. Ini adalah bentuk pemberontakan bawah sadar. Karena seharian waktu habis untuk bekerja atau mengurus orang lain, otak merasa "dirampok" kebebasannya. Akibatnya, ia menolak untuk tidur demi "mencuri" waktu untuk diri sendiri, meskipun cara yang dipilih sebenarnya makin menguras energi.

Memilih menu makan siang rasanya seberat ujian?

Pertanyaan sederhana seperti "Mau makan apa siang ini?" bisa terasa sangat membebani. Membuka aplikasi pesan antar, melihat ratusan pilihan, lalu menutupnya lagi karena bingung.

Kondisi ini disebut Decision Fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Setiap hari, otak dipaksa mengambil ribuan keputusan, dari yang penting hingga remeh. Saat energi mental menipis, kemampuan untuk memilih menjadi lumpuh. Otak masuk ke mode hemat daya dan menolak memproses opsi baru.

Kenapa suara notifikasi terdengar seperti ancaman?

Tanda lain yang sering tidak disadari adalah keinginan kuat untuk menarik diri. Suara notifikasi WhatsApp bukan lagi terdengar sebagai sapaan teman, melainkan gangguan yang bising. Ada rasa enggan yang berat untuk sekadar membalas pesan.

Ini bukan berarti menjadi anti-sosial. Ini adalah mekanisme pertahanan diri saat sistem saraf mengalami sensory overload. Otak sedang berteriak meminta keheningan dan kesendirian untuk menata ulang "kabel-kabel" yang kusut di dalam sana.

Jika tanda-tanda di atas mulai akrab di keseharian, mungkin yang dibutuhkan bukanlah kopi yang lebih kuat. Mungkin, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk meletakkan semua beban sejenak dan mengakui: "Tidak apa-apa untuk tidak melakukan apa-apa hari ini."

Logo Radio
🔴 Radio Live