Ceritra
Ceritra Warga

Capek Jelasin Berulang Kali? Coba 4 Trik Anti Miskomunikasi Ini

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 10:00 AM

Background
Capek Jelasin Berulang Kali? Coba 4 Trik Anti Miskomunikasi Ini
Ilustrasi dua perempuan sedang berkomunikasi (Pinterest/beautynesiaid)

Pernah nggak sih, kita sudah ngomong panjang lebar, eh lawan bicara malah bengong dan tanya, "Hah? Maksudnya gimana?"

Rasanya ingin teriak, kan? Kita sering berpikir kalau mau jelas, kita harus menjelaskan semuanya secara rinci. Padahal, makin panjang penjelasan, makin besar peluang orang gagal paham karena otak manusia punya batas fokus.

Kabar baiknya, kita bisa menghindari miskomunikasi tanpa harus jadi orator ulung. Kuncinya bukan di "banyaknya kata", tapi di "struktur". Ini trik simpelnya.

1. Kasih "Judul" Sebelum Masuk ke Isi

Bayangkan membaca berita tanpa judul, pasti bingung kan ini beritanya soal apa? Nah, percakapan juga sama. Seringkali kita langsung nyerocos detail masalah tanpa memberi tahu lawan bicara kita sedang membahas topik apa.

Coba rasakan bedanya. Daripada kita bilang, "Eh, itu filenya kok nggak bisa dibuka ya, terus warnanya juga agak aneh, bisa tolong cek nggak?" yang bikin orang bingung file yang mana, lebih baik langsung kasih konteks: "Soal Proyek A. Filenya corrupt. Bisa tolong kirim ulang?" Dengan menyebut "Proyek A" di awal, otak lawan bicara langsung siap menerima informasi yang relevan.

2. Pakai Rumus "Apa" Dulu, Baru "Kenapa"

Kebiasaan orang Indonesia adalah suka berbasa-basi atau memberikan latar belakang panjang lebar dulu, baru masuk ke permintaan utama. Ini rawan bikin orang bosan dan kehilangan poin utamanya.

Mulai sekarang, coba balik urutannya. Sampaikan poin utama dulu, baru jelaskan alasannya. Misalnya, daripada cerita panjang lebar soal strategi marketing dan penurunan omzet baru minta data, lebih baik langsung tembak: "Aku butuh laporan penjualan bulan lalu. Mau cek data karena ada tren penurunan." Langsung ke tujuan itu jauh lebih clear.

3. Hindari Kata-Kata "Abu-Abu"

Miskomunikasi paling sering terjadi karena kita pakai kata yang tafsirnya luas. Kata-kata seperti "secepatnya", "nanti", "bagus", atau "rapi" itu berbahaya karena standar setiap orang berbeda. "Secepatnya" buat kita mungkin 1 jam lagi, tapi buat teman kerja bisa jadi besok pagi.

Solusinya, ganti kata sifat dengan data pasti. Jangan bilang "Tolong kerjakan ini secepatnya," tapi katakan "Tolong kirim ini sebelum jam 3 sore." Jangan minta "Desain yang lebih ceria," tapi minta "Tolong ganti background jadi kuning." Perintah yang spesifik akan menghemat waktu debat.

4. Trik Burung Beo

Kalau posisi kita sebagai pendengar, cara terbaik memastikan nggak ada miskom tanpa tanya panjang lebar adalah dengan melakukan paraphrasing atau mengulang poin penting lawan bicara.

Cukup bilang, "Oke, jadi intinya aku harus email klien A sebelum makan siang, ya?" Kalau pemahaman kita benar, diskusi lanjut. Kalau salah, mereka akan langsung koreksi saat itu juga. Konfirmasi 5 detik ini jauh lebih hemat waktu daripada harus merevisi pekerjaan yang salah berjam-jam kemudian.

Logo Radio
🔴 Radio Live