Ceritra
Ceritra Warga

Candu Digital: Mengapa Otak Manusia Begitu Haus Akan Validasi Sosial?

Refa - Friday, 02 January 2026 | 02:00 PM

Background
Candu Digital: Mengapa Otak Manusia Begitu Haus Akan Validasi Sosial?
Ilustrasi Mendapat Pujian dari Orang Lain (Pinterest/beautynesiaid)

Ada sensasi yang sulit dijelaskan namun dirasakan oleh hampir semua pengguna media sosial: debaran halus saat menunggu respons setelah mengunggah foto, atau lonjakan kegembiraan saat notifikasi angka merah bermunculan di layar ponsel. Sebaliknya, ketika sebuah unggahan sepi dari likes atau komentar, muncul rasa cemas, kecewa, atau bahkan perasaan tidak berharga.

Banyak yang mengira perilaku ini hanyalah bentuk narsisme atau keinginan untuk pamer semata. Namun, sains menunjukkan bahwa kecanduan terhadap validasi sosial memiliki akar biologis dan evolusioner yang dalam. Keinginan untuk diakui bukan sekadar masalah ego, melainkan mekanisme bertahan hidup yang telah tertanam di otak manusia sejak ribuan tahun lalu.

Berikut adalah penjelasan ilmiah mengapa validasi sosial bisa begitu memabukkan dan membuat ketagihan.

Suntikan Dopamin Instan

Di balik layar ponsel, terjadi reaksi kimia yang kuat di dalam otak. Setiap kali seseorang mendapatkan pujian, tanda suka (like), atau komentar positif, otak melepaskan dopamin. Dopamin adalah neurotransmiter yang terkait dengan rasa nikmat, motivasi, dan sistem penghargaan (reward system).

Mekanisme ini mirip dengan apa yang terjadi saat seseorang memakan cokelat, memenangkan perjudian, atau menggunakan zat adiktif. Otak merekam aktivitas "mendapat notifikasi" sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Akibatnya, otak secara tidak sadar mendorong pemiliknya untuk mengulangi perilaku tersebut (mengunggah konten) demi mendapatkan "suntikan" rasa senang itu kembali. Ini menciptakan lingkaran umpan balik (loop) yang sulit diputus.

Mesin Judi dalam Saku

Perusahaan teknologi sangat memahami psikologi manusia dan memanfaatkannya melalui fitur Variable Reward Schedule atau jadwal hadiah yang tidak pasti. Ini adalah prinsip yang sama yang digunakan dalam mesin slot kasino.

Saat seseorang membuka aplikasi media sosial, ia tidak tahu apa yang akan didapatkan. Apakah akan ada 10 likes, 100 likes, atau tidak ada sama sekali? Ketidakpastian inilah yang justru memicu kecanduan. Jika hadiahnya dapat diprediksi, otak akan cepat bosan. Namun, karena hasilnya tidak pasti, otak menjadi penasaran dan terus-menerus mengecek ponsel dengan harapan mendapatkan "jackpot" validasi sosial.

Ketakutan Purba akan Pengucilan

Manusia adalah makhluk sosial yang berevolusi dalam kelompok-kelompok kecil. Di masa prasejarah, diterima oleh suku atau kelompok adalah syarat mutlak untuk bertahan hidup. Pengucilan atau penolakan sosial pada masa itu berarti kematian, karena manusia tidak bisa bertahan hidup sendirian di alam liar.

Meskipun zaman telah berubah, perangkat keras otak manusia belum banyak mengalami pembaruan. Otak masih menerjemahkan "validasi sosial" sebagai tanda keamanan dan penerimaan kelompok. Sebaliknya, kurangnya respons atau kritik di media sosial diterjemahkan oleh sistem saraf sebagai ancaman pengucilan. Inilah mengapa rasa sakit akibat diabaikan di dunia maya bisa terasa begitu nyata dan memicu kecemasan mendalam.

Rapuhnya Harga Diri Eksternal

Masalah muncul ketika validasi sosial menjadi satu-satunya tolak ukur harga diri (self-worth). Ketika seseorang menggantungkan rasa berharganya pada jumlah angka di layar, fondasi emosionalnya menjadi sangat rapuh.

Validasi dari luar bersifat sementara dan tidak terkendali. Hari ini seseorang mungkin dipuja, namun besok bisa dilupakan. Ketergantungan ini membuat suasana hati seseorang menjadi sangat fluktuatif, naik-turun mengikuti algoritma dan respons orang lain. Pada akhirnya, pengejaran validasi ini menjadi perlombaan tanpa garis finis; sebanyak apa pun pengakuan yang didapat, rasanya tidak akan pernah cukup untuk mengisi kekosongan internal.

Logo Radio
🔴 Radio Live