Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Soal Umur, Ini Cara Bicara Orang yang Benar-Benar Dewasa

Refa - Monday, 12 January 2026 | 12:30 PM

Background
Bukan Soal Umur, Ini Cara Bicara Orang yang Benar-Benar Dewasa
Ilustrasi komunikasi dengan sesama (Pinterest/roomyretreat)

Kedewasaan seseorang sering kali dikaitkan dengan bertambahnya usia. Namun, dalam ilmu psikologi, usia biologis tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan emosional (emotional maturity).

Salah satu tolak ukur paling valid untuk menilai kedewasaan seseorang bukanlah dari berapa lama ia hidup, melainkan bagaimana ia berkomunikasi. Cara seseorang menyampaikan pendapat, merespons kritik, dan menangani konflik verbal merupakan cermin langsung dari stabilitas emosi di dalam dirinya.

Berikut adalah lima karakteristik komunikasi yang membedakan individu yang matang secara emosional dengan yang tidak.

1. Responsif, Bukan Reaktif

Perbedaan mendasar terletak pada jeda waktu antara menerima stimulus (ucapan orang lain) dan memberikan respons.

Individu yang belum dewasa cenderung reaktif. Mereka dikuasai oleh emosi sesaat. Jika mendengar hal yang tidak menyenangkan, mereka akan langsung meledak, memotong pembicaraan, atau menyerang balik tanpa berpikir panjang.

Sebaliknya, individu yang dewasa bersikap responsif. Mereka memiliki kendali diri untuk mengambil jeda sejenak (pause), memproses informasi, meredakan emosi internal, baru kemudian memberikan tanggapan yang logis dan terukur. Mereka tidak membiarkan amarah mengendalikan lidah mereka.

2. Mendengar untuk Memahami, Bukan untuk Menjawab

Dalam sebuah percakapan, banyak orang hanya "diam menunggu giliran bicara", bukan benar-benar mendengarkan. Pikiran mereka sibuk menyusun argumen bantahan saat lawan bicara masih menjelaskan.

Kedewasaan komunikasi terlihat dari kemampuan mendengar aktif (active listening). Seseorang yang dewasa akan menyimak pandangan lawan bicara hingga tuntas untuk memahami perspektifnya secara utuh, meskipun perspektif tersebut bertentangan dengan pendapat pribadinya. Mereka tidak merasa terancam oleh perbedaan pendapat.

3. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pribadi

Saat terjadi konflik atau kesalahan, ketidakdewasaan sering kali muncul dalam bentuk serangan personal (ad hominem). Contoh kalimatnya seperti: "Kamu memang malas dan tidak becus." Kalimat ini menyerang karakter orangnya, bukan perilakunya.

Komunikasi yang dewasa memisahkan antara individu dan masalahnya. Fokus kritik diarahkan pada perilaku atau situasi spesifik yang perlu diperbaiki. Contoh kalimatnya: "Laporan ini terlambat diserahkan, sehingga menghambat proses produksi." Pendekatan objektif ini bertujuan mencari solusi, bukan mencari pemenang dalam perdebatan.

4. Berani Mengakui Kesalahan Tanpa Tapi

Salah satu tanda kematangan mental tertinggi adalah kemampuan untuk meminta maaf secara tulus.

Individu yang tidak dewasa memiliki ego yang rapuh, sehingga sulit mengakui kesalahan. Jika terpaksa meminta maaf, mereka sering menambahkan kata "tapi" untuk membenarkan diri (defensive). Contoh: "Saya minta maaf saya teriak, tapi itu karena kamu yang memancing emosi saya."

Orang yang dewasa berani mengambil tanggung jawab penuh atas perilakunya. Mereka menyadari bahwa mengakui kesalahan tidak akan merendahkan harga diri, melainkan justru menunjukkan integritas.

5. Mengelola Nada Bicara dan Bahasa Tubuh

Komunikasi tidak hanya soal pemilihan kata, tetapi juga elemen non-verbal. Seseorang bisa saja mengucapkan kalimat sopan, namun dengan nada bicara sinis atau mata yang memutar (eye-rolling).

Kedewasaan tercermin dari keselarasan antara ucapan, nada suara, dan bahasa tubuh. Seseorang yang matang mampu menyampaikan ketidaksetujuan atau kekecewaan dengan nada yang tetap tenang dan bahasa tubuh yang terbuka, tanpa perlu bersikap pasif-agresif atau membanting pintu untuk menunjukkan kekesalan.

Logo Radio
🔴 Radio Live