Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Pola Makan, Asam Urat Juga Dipengaruhi Faktor Genetik

Refa - Thursday, 01 January 2026 | 03:00 PM

Background
Bukan Sekadar Pola Makan, Asam Urat Juga Dipengaruhi Faktor Genetik
Ilustrasi Nyeri Asam Urat (Getty Images/jittawit.21)

Asam urat selama ini sering dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi daging dan minuman beralkohol secara berlebihan. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Berbagai studi mengungkapkan bahwa pola makan bukanlah penyebab utama munculnya asam urat, meskipun dapat berperan sebagai faktor pemicu.

Ahli epidemiologi dari Universitas Alabama, Tony Merriman, menjelaskan bahwa konsumsi makanan tertentu memang dapat memicu serangan asam urat, tetapi faktor tersebut bukan penyebab dominan terjadinya penyakit ini.

Di Amerika Serikat, asam urat dialami oleh lebih dari 12 juta orang dan empat kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Hal ini diduga berkaitan dengan kadar estrogen yang lebih tinggi pada wanita, yang memiliki efek protektif terhadap penyakit tersebut.

Mengutip Antara, asam urat terjadi akibat tingginya kadar urat dalam darah. Zat ini sebagian besar dihasilkan dari proses pemecahan purin, senyawa kimia yang secara alami ada di dalam tubuh. Selain itu, purin juga diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.

Daging merah dan udang dikenal mengandung purin cukup tinggi, namun zat ini juga ditemukan dalam jumlah signifikan pada beberapa jenis sayuran, seperti bayam dan asparagus.

Dalam kondisi normal, ginjal mampu menyaring urat dengan baik. Namun, pada penderita asam urat, kadar urat terlalu tinggi sehingga tubuh tidak mampu mengolahnya. Akibatnya, urat membentuk kristal yang mengendap di persendian, layaknya kerikil di dalam mesin.

Dalam jangka panjang, endapan ini dapat memicu terbentuknya benjolan yang merusak sendi dan tulang, meskipun nyeri yang dirasakan biasanya hanya berlangsung selama beberapa minggu.

Penelitian yang dilakukan Merriman bersama timnya pada 2018 terhadap 16.760 individu keturunan Eropa menunjukkan bahwa risiko asam urat sebagian besar dipengaruhi oleh faktor genetik.

Ia menyebutkan bahwa pola makan tinggi purin hanya menyumbang kurang dari sepertiga persen terhadap variasi kadar asam urat, sementara faktor genetik memberikan pengaruh hingga seratus kali lebih besar.

Selain faktor keturunan, kelompok etnis tertentu seperti keturunan Polinesia dan Hmong diketahui memiliki risiko lebih tinggi. Obesitas, tekanan darah tinggi, serta penyakit jantung juga menjadi faktor risiko tambahan karena memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur kadar asam urat.

Serangan asam urat yang terjadi sesekali umumnya ditangani oleh dokter layanan primer dengan obat pereda nyeri yang tersedia bebas atau kolkisin sebagai obat antiinflamasi.

Bagi pasien yang mengalami serangan dua kali atau lebih dalam setahun, atau yang sudah mengalami pembentukan benjolan asam urat (tofi), American College of Rheumatology merekomendasikan terapi untuk menurunkan kadar asam urat. Anjuran serupa juga diberikan kepada penderita penyakit ginjal kronis maupun mereka yang memiliki riwayat batu kandung kemih.

Direktur Pusat Asam Urat dan Artritis Kristal Fakultas Kedokteran Harvard, Hyon Choi, menyatakan bahwa pola makan rendah purin sebaiknya diterapkan hanya dalam jangka pendek, khususnya bagi pasien yang baru memulai pengobatan atau yang kesulitan mengontrol kadar asam urat.

Menurutnya, pembatasan purin dalam waktu lama kerap mendorong konsumsi karbohidrat dan lemak dalam jumlah lebih tinggi, yang justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan metabolik.

Sebagai contoh, konsumsi makanan tinggi sirup jagung fruktosa tinggi diketahui dapat meningkatkan kadar urat dalam darah. Sebaliknya, sayuran yang mengandung purin tinggi tidak terbukti meningkatkan risiko terjadinya asam urat.

Choi menganjurkan penderita asam urat untuk memprioritaskan penurunan berat badan serta menerapkan pola makan sehat seperti diet DASH atau diet Mediterania, yang telah terbukti efektif membantu menurunkan tekanan darah.

Logo Radio
🔴 Radio Live