Bukan Kamu yang Lemot, Tapi Otak Memang Lebih Cinta Drama daripada Angka
Refa - Monday, 12 January 2026 | 02:30 PM


Dalam dunia komunikasi, sering terjadi fenomena di mana audiens melupakan grafik statistik yang rumit namun mengingat dengan jelas sebuah cerita sedih atau anekdot lucu yang disampaikan pembicara.
Banyak orang beranggapan hal ini terjadi karena audiens malas berpikir. Namun, neurosains (ilmu saraf) membuktikan bahwa otak manusia memang dirancang secara biologis untuk memprioritaskan informasi yang bermuatan emosi dibandingkan data netral.
Berikut adalah penjelasan ilmiah mengapa pesan emosional memiliki daya lekat yang jauh lebih kuat di dalam memori manusia dibandingkan deretan angka atau fakta logis.
1. Kedekatan Letak Amigdala dan Hipokampus
Alasan utama bersifat anatomis. Di dalam otak manusia, terdapat bagian bernama Amigdala yang berfungsi memproses emosi, dan bagian bernama Hipokampus yang berfungsi merekam memori atau ingatan.
Posisi kedua organ ini saling bersebelahan dan terhubung sangat erat. Ketika seseorang menerima rangsangan emosional (seperti rasa takut, kaget, atau haru), Amigdala menjadi sangat aktif. Aktivitas ini secara otomatis merangsang Hipokampus untuk bekerja lebih keras dalam "menyimpan" kejadian tersebut.
Sebaliknya, data statistik atau angka diproses oleh bagian otak yang berbeda (korteks prefrontal) yang lebih berfokus pada logika analitis, yang tidak memiliki jalur langsung secepat Amigdala ke pusat memori.
2. Pelepasan Zat Kimia Penguat Ingatan
Saat emosi seseorang terguncang, otak melepaskan neurotransmitter (zat kimia pengantar pesan antar sel saraf) seperti dopamin (saat senang) atau kortisol dan adrenalin (saat takut/tegang).
Zat-zat kimia ini berfungsi menandai sebuah pengalaman sebagai "informasi penting". Secara kimiawi, keberadaan dopamin memperkuat koneksi sinaptik antar neuron saat memori dibentuk. Hasilnya, jejak ingatan (engram) yang terbentuk menjadi lebih tebal dan tahan lama.
Data netral yang tidak memancing reaksi emosional tidak memicu pelepasan zat kimia ini, sehingga jejak ingatannya lebih lemah dan mudah hilang.
3. Mekanisme Bertahan Hidup Evolusioner
Secara evolusi, otak manusia berkembang untuk memprioritaskan keselamatan hidup. Nenek moyang manusia perlu mengingat hal-hal yang berkaitan dengan ancaman (rasa takut dikejar predator) atau sumber makanan (rasa senang menemukan buah).
Informasi yang berkaitan dengan emosi dianggap oleh otak sebagai informasi yang krusial untuk bertahan hidup di masa depan. Oleh karena itu, otak akan menyimpannya secara permanen tanpa perlu disuruh. Sementara itu, data abstrak (seperti persentase atau jumlah) tidak dianggap sebagai ancaman atau keuntungan langsung bagi kelangsungan hidup biologis, sehingga sering kali diabaikan oleh sistem penyaringan memori.
4. Beban Kognitif (Cognitive Load)
Memproses data dan angka membutuhkan "Beban Kognitif" yang tinggi. Otak harus melakukan dekode simbol angka, menganalisis konteks, dan menarik kesimpulan logis. Proses ini memakan energi mental yang besar.
Sebaliknya, emosi adalah bahasa universal yang instan. Manusia tidak perlu berpikir keras untuk memahami rasa sedih atau bahagia. Karena pemrosesan emosi lebih efisien dan cepat, otak lebih mudah menyerap dan menyimpan informasi tersebut dibandingkan data yang memerlukan analisis rumit.
5. Visualisasi Konkret vs. Abstrak
Pesan emosional biasanya hadir dalam bentuk narasi atau cerita yang memicu visualisasi (bayangan mental). Ketika mendengar cerita sedih tentang satu orang korban bencana, pendengar dapat membayangkan wajah dan situasi orang tersebut. Visualisasi ini membuat ingatan menjadi konkret.
Sebaliknya, data seperti "1.000 korban terdampak" adalah konsep abstrak. Otak manusia lebih sulit menyimpan konsep abstrak dibandingkan gambaran visual yang konkret. Inilah sebabnya satu cerita spesifik sering kali lebih berdampak daripada statistik massal.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 6 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 6 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 6 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 5 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 5 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 4 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 4 hours

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 5 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 3 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 2 hours






