Ceritra
Ceritra Update

Bukan Hanya Ngaji, Pesantren Kini Panen Pangan!

- Tuesday, 28 October 2025 | 03:00 PM

Background
Bukan Hanya Ngaji, Pesantren Kini Panen Pangan!

Ketika Santri Tak Hanya Mengaji, Tapi Juga Bercocok Tanam: BAZNAS RI Ajak Pesantren Jadi Pahlawan Pangan Nasional!

Dulu, kalau dengar kata pesantren, yang terbayang mungkin cuma santri-santri yang khusyuk mengaji kitab kuning, atau mungkin sibuk menghafal Al-Qur'an. Lingkungan yang identik dengan kesederhanaan, disiplin, dan tentunya, ilmu agama. Tapi, apa jadinya kalau pesantren, dengan segala potensinya, didorong untuk jadi garda terdepan dalam urusan perut? Iya, urusan pangan. Kedengarannya unik, ya? Namun, inilah gebrakan keren yang sedang digagas oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI. Mereka mengajak pondok pesantren di seluruh Indonesia untuk turun gunung, atau lebih tepatnya, turun ke kebun, sawah, atau kolam, demi menjadi pemasok bahan pangan utama bagi program mulia mereka, Muzaki Berdaya untuk Negeri (MBG).

Bukan tanpa alasan BAZNAS RI melirik pesantren. Ini bukan cuma soal program bagi-bagi rezeki, tapi jauh lebih dalam, ini tentang ketahanan pangan nasional, tentang memberdayakan ekonomi umat, dan memastikan bahwa setiap paket makanan yang sampai ke tangan kaum dhuafa itu isinya bukan kaleng-kaleng. Alias, beneran berkualitas, segar, dan menyehatkan. Bayangkan, dari tangan-tangan santri yang tadinya cuma memegang tasbih, kini juga memegang cangkul atau jala. Sebuah transformasi yang, kalau dipikir-pikir, punya potensi luar biasa untuk bikin kita geleng-geleng kepala saking kagumnya.

Dari Kitab Kuning ke Kebun Hijau: Potensi Pesantren yang Sering Terlupakan

Ketua BAZNAS RI, dengan visi yang jernih, menjelaskan bahwa pesantren itu punya ‘harta karun’ yang selama ini mungkin belum dimaksimalkan. Apa itu? Lahan yang luas, sumber daya manusia (santri) yang jumlahnya bejibun dan punya etos kerja komunal yang kuat, serta semangat kebersamaan yang sudah mendarah daging. Potensi ini, kalau dikelola dengan baik, bisa jadi mesin produksi pertanian, peternakan, atau perikanan yang ampuh. Kita semua tahu, banyak pesantren yang lokasinya masih asri, di pedesaan, punya akses ke sumber daya alam. Ini adalah modal dasar yang tak ternilai harganya.

Nah, dengan menjadi pemasok bahan pangan untuk program MBG, pesantren nggak cuma jadi penyedia, tapi juga pahlawan ekonomi untuk diri mereka sendiri. Mereka bisa meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja bagi para santri atau masyarakat sekitar, dan yang nggak kalah penting, membuka pasar baru yang stabil untuk produk-produk pertanian, peternakan, atau perikanan mereka. Ini lho yang namanya "sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." Niatnya baik, hasilnya dobel-dobel. Keren, kan?

Bisa kita bayangkan, santri yang pagi hari belajar tafsir, siangnya turun ke ladang merawat tanaman, atau sorenya memberi makan ikan di kolam. Ini bukan cuma melatih kemandirian, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang konkret: kerja keras, tanggung jawab, dan bagaimana rezeki itu datang dari usaha yang sungguh-sungguh. Bukan cuma teori di buku, tapi langsung praktik di lapangan. Ilmu agama jalan, ilmu dunia juga nggak ketinggalan. Sebuah kombinasi yang, menurut saya, adalah definisi dari pendidikan yang holistik dan relevan dengan tantangan zaman.

Muzaki Berdaya untuk Negeri: Bukan Sekadar Memberi, Tapi Memberdayakan

Program Muzaki Berdaya untuk Negeri (MBG) sendiri adalah inisiatif BAZNAS RI yang fokus mendistribusikan paket makanan bergizi kepada kaum dhuafa. Tujuannya jelas, untuk memastikan saudara-saudara kita yang kurang beruntung bisa mendapatkan asupan nutrisi yang layak. Tapi, BAZNAS RI nggak mau sekadar asal kasih. Mereka ingin pasokan bahan pangannya berkualitas tinggi, konsisten, dan kalau bisa, lokal. Di sinilah peran pesantren jadi vital.

Ketika pesantren menjadi pemasok, bahan pangan yang didapatkan program MBG bisa dipastikan kesegarannya, bahkan mungkin lebih terjamin kehalalannya karena langsung dari tangan umat. Bayangkan sayuran segar yang baru dipanen dari kebun pesantren, telur dari peternakan santri, atau ikan yang baru saja dipancing dari kolam pesantren. Ini bukan cuma soal makanan, tapi juga soal amanah dan keberkahan. Paket makanan yang disalurkan bukan cuma mengenyangkan perut, tapi juga menghangatkan hati, karena tahu bahwa di baliknya ada jerih payah dan doa para santri.

BAZNAS RI: Mak Comblang yang Baik Hati dan Jeli

Tentu saja, BAZNAS RI tidak hanya melempar ide tanpa dukungan. Mereka akan bertindak sebagai "mak comblang" yang menghubungkan pesantren-pesantren ini dengan berbagai pihak. Pertama, dengan pemerintah daerah (pemda) setempat. Tujuannya jelas, agar ada dukungan kebijakan, fasilitas, atau bahkan pelatihan bagi pesantren. Kedua, dengan Kementerian Pertanian. Ini krusial banget untuk urusan teknis: peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi pertanian modern, atau bahkan akses ke bibit unggul dan pupuk berkualitas.

Melalui fasilitasi ini, diharapkan pesantren tidak lagi jalan sendiri. Mereka akan mendapat bimbingan, dukungan teknis, dan jaringan yang lebih luas. Jadi, ini bukan cuma soal menanam atau beternak, tapi juga soal manajemen produksi, rantai pasok, bahkan standar kualitas. Sebuah ekosistem yang terintegrasi, yang bisa membuat pesantren semakin profesional dalam mengelola sektor pangan. Ini langkah strategis yang patut diacungi jempol, karena mengakui bahwa masalah pangan itu kompleks dan butuh kolaborasi banyak pihak.

Ekosistem Zakat dari Hulu ke Hilir: Sebuah Roda Pemberdayaan yang Berputar

Ide besar di balik inisiatif ini adalah menciptakan ekosistem zakat yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Apa maksudnya? Dari hulu, pesantren sebagai produsen, menghasilkan bahan pangan berkualitas. Mereka mendapatkan pemasukan, ekonomi pesantren bergerak, dan para santri pun berdaya secara ekonomi. Kemudian, bahan pangan ini masuk ke program MBG, yang disalurkan ke kaum dhuafa (hilir).

Para dhuafa menerima manfaat, kebutuhan gizi mereka terpenuhi. Lingkaran ini tidak berhenti di situ. Dengan perut kenyang dan tubuh bugar, mereka pun diharapkan bisa lebih berdaya, mungkin bisa bekerja, belajar, atau mengembangkan usaha kecil. Zakat yang awalnya dikumpulkan dari muzaki, kini tidak hanya berupa uang tunai, tapi menjelma menjadi energi yang menggerakkan roda ekonomi dan pemberdayaan masyarakat secara komprehensif. Ini bukan cuma bagi-bagi, tapi investasi masa depan.

Zakat bukan lagi sekadar kewajiban ritual, tapi menjadi kekuatan ekonomi umat yang nyata. Ini adalah bukti bahwa ajaran Islam, ketika diaplikasikan dengan cerdas dan strategis, bisa menjadi solusi konkret untuk berbagai permasalahan sosial dan ekonomi. Dari santri yang bersahaja, kini kita bisa melihat harapan baru untuk ketahanan pangan, untuk ekonomi pesantren yang lebih mandiri, dan untuk masyarakat dhuafa yang lebih berdaya.

Tentu saja, perjalanan ini tidak akan selalu mulus tanpa kerikil. Akan ada tantangan dalam hal pelatihan, adaptasi, atau bahkan fluktuasi harga pasar. Tapi, dengan semangat gotong royong dan dukungan dari BAZNAS RI serta pemerintah, insya Allah, pesantren-pesantren ini bisa menjadi pilar kokoh dalam mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat pangan dan masyarakat yang lebih sejahtera. Sebuah visi yang, menurut saya, jauh lebih keren daripada sekadar mimpi di siang bolong.

Logo Radio
🔴 Radio Live