Ceritra
Ceritra Warga

Bos Gak Peduli Mentalmu! Kenapa Tren 'Act Your Wage' Lebih Masuk Akal di 2026

Refa - Tuesday, 06 January 2026 | 02:30 PM

Background
Bos Gak Peduli Mentalmu! Kenapa Tren 'Act Your Wage' Lebih Masuk Akal di 2026

Ingat lirik lagu "Kerja keras bagai kuda"? Dulu, kalimat itu dianggap mantra kesuksesan. Kita didoktrin bahwa siapa yang paling sering lembur, paling cepat balas email di hari Minggu, dan paling "iya-iya aja" sama bos, dialah yang akan sukses.

Tapi, selamat datang di realita.

Bagi banyak karyawan (terutama Gen Z dan Milenial akhir), mantra itu sudah basi. Fenomena burnout, gaji yang stagnan, dan tuntutan hidup yang makin mahal melahirkan tren baru yang disebut "Act Your Wage".

Singkatnya: Bertindaklah sesuai gajimu. Jangan berikan tenaga seharga CEO kalau kamu cuma dibayar UMR. Terdengar pemberontak? Mungkin. Tapi jika ditelaah lebih dalam, ini adalah pola pikir paling sehat untuk bertahan di dunia korporat yang sering kali tidak manusiawi.

Apa Itu Act Your Wage?

Jangan salah kaprah. Act Your Wage bukan berarti kamu jadi karyawan pemalas, datang telat, atau kerja asal-asalan. Bukan itu poinnya.

Konsep ini mengajarkan profesionalisme yang proporsional. Kamu tetap menyelesaikan tugasmu dengan baik sesuai Job Description (Jobdesc), datang tepat waktu, dan memenuhi target. Tapi, kamu berhenti melakukan "hal-hal ekstra" yang tidak dibayar.

Berhenti lembur tanpa uang lembur. Berhenti memikirkan solusi masalah kantor saat sedang mandi di rumah. Berhenti mengerjakan pekerjaan tiga orang sendirian hanya demi dibilang multitasking.

Ibaratnya, kalau kamu bayar tiket pesawat kelas Ekonomi, jangan harap dapat layanan First Class. Begitu juga perusahaan kepadamu. Kalau mereka bayar harga "Ekonomi", ya berikan performa terbaik di kelas "Ekonomi", jangan kasih layanan "VIP" gratisan.

Jebakan 'Reward' Berupa Pekerjaan Tambahan

Pernah dengar pepatah gelap dunia kerja: "The reward for good work is more work" (Hadiah untuk kerja bagus adalah pekerjaan yang lebih banyak)?

Ini alasan utama kenapa hustle culture atau gila kerja itu menjebak. Saat kamu mati-matian cari muka ke bos dengan harapan naik gaji, sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Bos akan melihatmu sebagai "kuda beban" yang kuat.

"Wah, si A kerjanya cepat nih. Kasih aja proyek si B dan C ke dia sekalian."

Hasilnya? Gajimu tetap, tapi beban kerjamu naik dua kali lipat. Sementara temanmu yang kerja "biasa saja" (sesuai porsi), pulang tepat waktu dan mentalnya aman-aman saja. Di titik ini, siapa yang sebenarnya lebih cerdas?

Kesehatan Mental vs Validasi Bos

Mari bicara jujur. Bosmu mungkin orang baik, tapi perusahaan adalah mesin pencetak uang.

Jika (amit-amit) kamu jatuh sakit karena tifus atau stres berat akibat lembur sebulan penuh, perusahaan mungkin akan mengirim karangan bunga. Tapi seminggu kemudian? Lowongan kerjamu sudah diposting di LinkedIn untuk mencari pengganti.

Kesehatan mental dan fisikmu adalah aset pribadi yang tidak bisa diganti oleh asuransi kantor mana pun. Act Your Wage adalah cara menetapkan batasan (boundaries).

Pulang teng-go (jam 5 sore) itu hak, bukan dosa. Tidak membalas WhatsApp grup kantor di hari libur itu normal, bukan pembangkangan.

Logo Radio
🔴 Radio Live