Ceritra
Ceritra Warga

Bicara Terlalu Banyak Bisa Jadi Tanda Kamu Tidak Percaya Diri

Refa - Monday, 12 January 2026 | 06:00 PM

Background
Bicara Terlalu Banyak Bisa Jadi Tanda Kamu Tidak Percaya Diri
Ilustrasi sedang bercengkrama (Pinterest/psych_mechanics)

Dalam komunikasi, terdapat sebuah paradoks yang sering tidak disadari: semakin banyak seseorang berusaha menjelaskan, semakin kabur pesan yang diterima oleh pendengar.

Banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa memberikan detail sebanyak-banyaknya akan membuat lawan bicara lebih paham. Namun, fakta psikologis menunjukkan sebaliknya. Fenomena ini sering disebut sebagai over-explaining atau verbal clutter. Bukannya memperjelas, banjir kata-kata justru mengubur inti pesan yang sesungguhnya.

Berikut adalah empat alasan logis mengapa "sedikit bicara" sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada penjelasan panjang lebar.

1. Dilusi Pesan (Pengenceran Makna)

Bayangkan sebuah gelas berisi sirup kental (inti pesan). Jika air terus-menerus ditambahkan ke dalam gelas tersebut (kata-kata tambahan), rasa manis sirup akan hilang dan menjadi tawar.

Prinsip yang sama berlaku dalam komunikasi. Ketika seseorang menambahkan terlalu banyak detail tidak relevan, kata pengantar yang berputar-putar, atau pengulangan yang tidak perlu, poin utama menjadi terdistorsi. Pendengar akan kesulitan memilah mana informasi prioritas dan mana yang sekadar "bunga-bunga" percakapan. Akibatnya, instruksi penting sering kali terlewatkan.

2. Sinyal Ketidakpercayaan Diri (Insecurity)

Secara psikologis, kebiasaan menjelaskan sesuatu secara berlebihan sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri yang muncul dari rasa tidak aman.

Pembicara yang merasa tidak yakin dengan argumennya atau takut dihakimi cenderung akan "menimbun" argumen. Mereka terus berbicara untuk membenarkan diri (justifying) bahkan sebelum ada yang bertanya. Bagi lawan bicara, perilaku ini justru mengirimkan sinyal bahwa pembicara tidak kompeten, sedang menyembunyikan sesuatu, atau tidak percaya diri dengan otoritas yang dimilikinya.

3. Kelelahan Kognitif Pendengar

Otak manusia memiliki kapasitas pemrosesan informasi yang terbatas dalam satu waktu, yang dikenal sebagai Cognitive Load.

Saat seseorang berbicara tanpa jeda dan memberikan terlalu banyak informasi sekaligus, otak pendengar mengalami kelebihan beban (information overload). Secara otomatis, otak akan berhenti memproses informasi baru untuk "beristirahat". Inilah momen ketika pendengar mulai melamun, mengangguk kosong, atau mengecek ponsel. Pesan yang disampaikan setelah titik jenuh ini akan terbuang percuma.

4. Menghilangkan Ruang untuk Refleksi

Komunikasi yang efektif membutuhkan ruang hampa atau keheningan. Jeda setelah sebuah pernyataan penting memberikan waktu bagi pendengar untuk mencerna, memikirkan, dan meresapi makna kalimat tersebut.

Jika pembicara terus mengisi setiap detik dengan suara karena takut pada keheningan (fear of silence), pendengar tidak memiliki kesempatan untuk memvalidasi atau menyetujui ide tersebut. Makna sebuah kalimat sering kali baru terasa "masuk" saat kalimat tersebut berhenti diucapkan.

Tips: Prinsip "Less is More"

Untuk menghindari jebakan ini, para ahli komunikasi menyarankan teknik "KISS" (Keep It Short and Simple). Sampaikan poin utama dalam kalimat yang ringkas, lalu berhentilah. Biarkan lawan bicara yang meminta detail tambahan jika mereka membutuhkannya.

Ingat, dalam negosiasi maupun kepemimpinan, pihak yang berbicara lebih sedikit sering kali dianggap memegang kendali situasi yang lebih besar.

Logo Radio
🔴 Radio Live