Bedah Psikologi: Mengapa Gim Masa Kecil Membentuk Pola Pikir Anak 90-an Berbeda dengan Gen Z
Nisrina - Tuesday, 23 December 2025 | 11:48 AM


Sering kali kita mendengar perdebatan sengit di tempat kerja atau media sosial mengenai perbedaan karakter antar generasi. Generasi milenial atau anak 90-an sering dianggap lebih "tahan banting" terhadap proses yang panjang, sementara Generasi Z kerap dilabeli sebagai generasi yang menyukai segala sesuatu yang serba instan. Ternyata perbedaan pola pikir ini bukan sekadar nasib zaman, melainkan hasil dari pemograman ulang otak yang terjadi selama masa kanak-kanak.
Salah satu faktor terbesar yang jarang disadari namun memiliki dampak psikologis yang masif adalah jenis permainan video atau gim yang mereka mainkan saat kecil. Psikologi modern menemukan bahwa mekanisme permainan yang kita konsumsi saat otak sedang berkembang ternyata ikut membentuk struktur logika dan cara kita menyelesaikan masalah di kemudian hari.
Era "Game Over" dan Ketahanan Mental 90-an
Mari kita putar kembali waktu ke era kejayaan konsol klasik seperti Nintendo atau SEGA. Anak-anak 90-an tumbuh dengan gim yang memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi dan tidak kenal ampun. Sebut saja permainan seperti Contra atau Mario Bros klasik. Dalam permainan tersebut, pemain tidak dimanjakan dengan fitur penyimpanan otomatis atau auto-save di setiap menitnya.
Jika karakter Anda mati karena kesalahan kecil, konsekuensinya sangat fatal. Anda harus mengulang permainan dari level paling awal atau bahkan dari titik nol. Tidak ada opsi untuk membeli nyawa tambahan dengan uang sungguhan. Satu-satunya cara untuk menamatkan permainan adalah dengan belajar dari kesalahan, menghafal pola, dan mencoba ulang ratusan kali dengan kesabaran ekstra.
Mekanisme ini secara tidak sadar melatih otak anak 90-an tentang konsep gratifikasi yang tertunda atau delayed gratification. Mereka terbiasa dengan proses jatuh bangun yang menyakitkan demi mencapai sebuah kemenangan. Hal ini membentuk pola pikir yang menghargai proses panjang dan ketahanan mental saat menghadapi kegagalan. Otak mereka terlatih untuk memahami bahwa hadiah besar hanya bisa didapat melalui dedikasi dan repetisi yang membosankan.
Era "Tutorial" dan Kecepatan Gen Z
Berbeda halnya dengan lanskap permainan yang dihadapi oleh Generasi Z. Mereka tumbuh di era gim seluler dan konsol modern yang didesain untuk kenyamanan pengguna. Gim zaman sekarang umumnya dilengkapi dengan fitur checkpoint yang rapat, tutorial yang sangat memandu langkah demi langkah, hingga opsi transaksi mikro untuk mempercepat progres.
Jika seorang pemain gagal di satu titik, mereka tidak perlu mengulang dari awal permainan. Mereka cukup memulainya kembali dari titik terakhir yang hanya berjarak beberapa detik saja. Mekanisme ini menciptakan siklus umpan balik atau feedback loop yang sangat cepat. Otak Gen Z terlatih untuk mendapatkan hasil instan dan solusi cepat.
Kondisi ini membentuk pola pikir yang sangat efisien dan berorientasi pada hasil akhir. Mereka sangat cepat dalam memproses informasi baru dan jago multitasking, namun di sisi lain mereka cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap kebosanan atau proses yang berlarut-larut tanpa hasil yang terlihat. Bagi mereka, hambatan adalah sesuatu yang harus segera disingkirkan dengan cara tercepat, bukan tantangan yang harus dinikmati penderitaannya.
Plastisitas Otak yang Membentuk Karakter
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep neuroplastisitas. Otak anak-anak ibarat tanah liat yang basah. Pengalaman yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk jalur saraf yang permanen. Gim bukan sekadar hiburan, melainkan simulator kehidupan bagi otak anak.
Bagi anak 90-an, gim adalah simulator ketekunan. Sedangkan bagi Gen Z, gim adalah simulator kecepatan dan efisiensi. Keduanya tidak ada yang salah atau benar. Perbedaan ini hanya menghasilkan dua tipe pemecah masalah yang berbeda di dunia nyata.
Memahami latar belakang psikologis ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antar generasi. Kita jadi paham bahwa cara berpikir seseorang adalah produk dari lingkungannya. Jadi alih-alih saling menyalahkan metode kerja, kita bisa melihat bahwa kombinasi antara ketekunan ala 90-an dan efisiensi ala Gen Z sebenarnya adalah resep sempurna untuk kemajuan.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 43 minutes

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 13 minutes

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 13 minutes

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
17 minutes ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
an hour ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
an hour ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
2 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
2 minutes ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
3 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
3 hours ago






