Ceritra
Ceritra Warga

Bahaya Laten Konten Viral Bagi Pola Pikir Kita

Nisrina - Sunday, 04 January 2026 | 02:45 PM

Background
Bahaya Laten Konten Viral Bagi Pola Pikir Kita
Penggunaan handphone memengaruhi attention span yang semakin memendek. (Shutterstock/)

Setiap hari jari kita menari di atas layar ponsel, menggulir ratusan video pendek dan foto yang silih berganti dalam hitungan detik. Konten viral menjadi santapan sehari-hari, mulai dari joget konyol, drama perselingkuhan, hingga tantangan berbahaya yang tidak masuk akal. Tanpa kita sadari, paparan terus-menerus terhadap konten semacam ini perlahan mengubah struktur pola pikir dan perilaku masyarakat. Kita sedang mengalami pendangkalan cara berpikir di mana segala sesuatu dinilai hanya dari kulit luarnya saja, yakni seberapa heboh dan seberapa banyak likes yang didapat.

Dampak paling nyata adalah menyusutnya rentang perhatian atau attention span. Konten viral biasanya berdurasi singkat dan to the point untuk memancing emosi instan. Akibatnya, kita menjadi tidak sabaran dan sulit berkonsentrasi pada hal-hal yang membutuhkan pemikiran mendalam seperti membaca buku atau menyimak diskusi panjang. Otak kita menjadi malas berpikir kritis dan hanya menginginkan stimulasi hiburan yang cepat. Informasi yang kompleks dan bernuansa menjadi tidak laku karena dianggap membosankan.

Lebih berbahaya lagi adalah fenomena normalisasi perilaku buruk. Sering kali konten yang viral adalah konten yang memamerkan kebodohan, kekasaran, atau pamer kekayaan yang tidak wajar. Ketika konten seperti ini mendapat jutaan penonton dan pujian, alam bawah sadar masyarakat, terutama anak muda, akan menganggap bahwa perilaku tersebut adalah jalan pintas menuju kesuksesan dan pengakuan sosial. Terjadi erosi nilai moral di mana etika dan prestasi menjadi nomor dua, yang penting "fypp" atau viral dulu.

Efek "ikut-ikutan" atau bandwagon effect juga semakin parah. Orang takut memiliki pendapat yang berbeda dengan arus utama yang sedang viral karena takut dirundung atau dianggap ketinggalan zaman (FOMO). Akibatnya, keragaman pemikiran mati. Masyarakat menjadi seragam dalam berpikir dan bertindak sesuai apa yang didiktekan oleh algoritma media sosial. Kita kehilangan jati diri dan orisinalitas karena sibuk meniru apa yang sedang tren hari ini, besok tren ganti, kita pun ikut berubah lagi.

Untuk menjaga kewarasan di era banjir informasi ini, kemampuan literasi digital dan kontrol diri menjadi tameng wajib. Kita harus sadar bahwa apa yang viral belum tentu benar, dan apa yang populer belum tentu baik. Jadilah konsumen konten yang cerdas yang mampu memilah mana sampah dan mana nutrisi bagi otak. Jangan biarkan algoritma yang tidak punya hati nurani mendikte cara kita memandang dunia dan menjalani hidup.

Logo Radio
🔴 Radio Live