

Iklan menampilkan kabut tipis, gunung hijau, dan tetesan air jernih tapi di baliknya, muncul dugaan: air dalam botol Aqua bukan dari pegunungan. BPKN pun turun tangan, menyebut klaim itu bisa melanggar aturan perlindungan konsumen.
Isu ini bermula dari laporan publik yang masuk ke Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Dalam laporan itu, PT Tirta Investama produsen merek Aqua dituding menyesatkan konsumen lewat klaim "air pegunungan" dalam iklannya. Faktanya, berdasarkan hasil penelusuran dan pengaduan, air yang digunakan disebut berasal dari sumur bor, bukan langsung dari mata air pegunungan sebagaimana digambarkan di berbagai kemasan dan iklan televisi.
Ketua BPKN, Mufti Mubarok, menegaskan bahwa pernyataan dalam iklan seharusnya sejalan dengan fakta di lapangan. "Konsumen berhak atas informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Jika air itu berasal dari sumur bor tetapi diklaim sebagai air pegunungan, maka itu bisa dikategorikan pelanggaran etik dan hukum," ujar Mufti dalam keterangannya. Ia menambahkan, pelanggaran semacam itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan prinsip transparansi produk.
Kasus ini langsung menyedot perhatian publik karena Aqua selama puluhan tahun dikenal sebagai merek air mineral paling populer di Indonesia. Citra "alami", "murni", dan "segar dari pegunungan" telah melekat kuat dalam strategi pemasaran perusahaan. Namun kini, klaim itu justru menjadi sorotan tajam. Banyak warganet menilai perusahaan besar semestinya memberi contoh etika bisnis yang jujur dan tidak memanipulasi persepsi konsumen.
Dampaknya bukan hanya soal citra. BPKN menilai praktik pemasaran yang menyesatkan dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap industri air kemasan. Selain itu, konsumen yang membayar lebih mahal dengan asumsi mendapatkan kualitas "air pegunungan" bisa merasa dirugikan. Mufti menyebut pihaknya akan melakukan verifikasi lapangan dan memanggil produsen untuk memberikan penjelasan resmi. "Kami tidak ingin publik dibohongi. Transparansi itu wajib," ujarnya tegas.
Di tengah derasnya iklan yang menjual "kesegaran alami", konsumen diingatkan untuk lebih kritis. Label hijau dan gambar gunung belum tentu menjamin keaslian sumber air. Kasus Aqua ini menjadi cermin: kejujuran dalam iklan bukan sekadar strategi dagang, tapi bentuk tanggung jawab sosial.
Next News

Antara Drama dan Keringat: Menelusuri Jejak WWE Sebagai "Reality Show" Terbesar di Dunia
in 2 hours

Sejarah Lengkap Es Krim: Dari Ramuan Kaisar China hingga Legenda Es Puter Indonesia
3 hours ago

Penjara Emas di Balik Layar: Kenapa Jadi Terkenal Itu Nggak Selamanya Indah Seperti di Sosial Media
a day ago

Mengupas Rahasia di Balik Pentingnya Struktur Panitia dalam Acara
a day ago

Kenapa Setan Kita Beda? Sebuah Studi Sosiologi Hantu Indonesia
a day ago

Main character syndrome: semua orang pengen jadi pusat cerita
2 days ago

Digital fatigue: capek hidup yang semuanya harus online
2 days ago

Quiet quitting di kehidupan sosial: makin selektif atau makin menjauh?
2 days ago

Hustle culture burnout: capek ngejar sukses yang nggak ada garis finish-nya
2 days ago

Lazarus Effect: Ketika Kehidupan "Kembali" Setelah Kematian Klinis
a day ago



