

Pernah nggak sih, tiba-tiba pagi-pagi pas mau bangun tidur rasanya badan berat banget kayak digantungi beban seribu ton? Bukan karena semalam habis marathon nonton drakor, tapi karena kepikiran setumpuk kerjaan kantor yang belum kelar, revisian skripsi yang nggak ada ujungnya, atau bahkan cuma mikirin cicilan bulan depan. Rasanya mau narik napas aja susah, kepala penuh, dan emosi gampang banget meledak. Kalau iya, selamat! Mungkin kamu lagi merasakan apa yang dinamakan burnout. Dan jangan salah, fenomena ini lagi marak banget lho di kalangan anak muda zaman sekarang.
Dulu, kita kenalnya burnout itu identik sama eksekutif kantoran paruh baya yang kerja 24/7 sampai lupa rumah. Tapi sekarang? Anak kuliah, fresh graduate, atau bahkan yang baru kerja setahunan aja udah gampang banget kena. Kok bisa? Emang apa sih yang bikin anak muda, yang seharusnya lagi di puncak energi dan semangat, malah gampang banget tumbang karena burnout?
Tekanan Tak Terbendung: Arena Gladiator Modern untuk Anak Muda
Oke, mari kita jujur. Hidup anak muda sekarang itu kayak lagi ikut lomba lari maraton, tapi sambil bawa beban karung beras di punggung, ditambah lagi ada yang nyuruh kita senyum terus. Beban itu datangnya dari mana-mana, lho. Pertama, dari dunia akademik dan karir. Sejak sekolah, kita udah dicekoki sama ekspektasi tinggi: harus ranking bagus, masuk kampus top, ipk cumlaude, langsung dapat kerja di perusahaan multinasional dengan gaji fantastis. Orang tua, guru, bahkan omongan tetangga, semuanya jadi semacam peniup peluit yang nggak pernah berhenti.
Begitu masuk dunia kerja, ceritanya makin rumit. Persaingan ketat bikin kita merasa harus selalu jadi yang terbaik, selalu produktif, dan nggak boleh ada celah sedikit pun. Kalau nggak, rasanya langsung dicap "kurang usaha" atau "lemah". Padahal, kita juga manusia, yang punya batas fisik dan mental. Rasanya kayak dikejar deadline terus-menerus, bahkan saat lagi tidur pun bayang-bayang kerjaan itu masih gentayangan. Tekanan untuk selalu "perform" ini yang pelan-pelan menggerogoti energi dan semangat kita sampai habis tak bersisa.
Medsos, Si Pedang Bermata Dua Pembawa Bencana
Ah, ini dia biang kerok yang seringkali nggak kita sadari. Media sosial! Dulu sih niatnya cuma buat silaturahmi, atau sharing momen lucu. Tapi sekarang? Medsos itu jadi etalase sempurna buat pamer hidup yang 'sempurna'. Feed Instagram penuh sama teman-teman yang liburan ke Bali, punya outfit branded, atau lagi kumpul-kumpul sama circle pertemanan yang kelihatan seru banget. Sementara kita? Lagi rebahan di kasur sambil mikirin cicilan dan kerjaan yang nggak kelar-kelar.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita dengan highlight reel orang lain. Muncul deh yang namanya FOMO (Fear of Missing Out) dan perasaan "kok hidup gue gini-gini aja ya?". Kita jadi terobsesi mengejar validasi dari like, komen, atau followers, sampai lupa esensi kebahagiaan yang sebenarnya. Medsos yang seharusnya jadi alat, malah jadi standar kebahagiaan yang nggak realistis. Pikiran kita jadi dipenuhi sama asumsi bahwa semua orang lain lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih keren daripada kita. Lama-lama, ini bikin mental capek sendiri, merasa nggak cukup, dan insecure parah. Dan rasa lelah mental inilah yang jadi bahan bakar sempurna buat burnout.
Ketika Hidup Berasa Antara Ada dan Tiada: Krisis Eksistensial dan Ketidakpastian
Anak muda zaman sekarang sering banget ngalamin yang namanya quarter-life crisis. Udah lulus kuliah, udah kerja, tapi kok rasanya hidup masih hampa? Pertanyaan-pertanyaan kayak "Ini gue siapa?", "Apa tujuan hidup gue?", "Gue mau jadi apa 5 tahun lagi?" itu sering banget nongol di kepala. Apalagi di tengah situasi dunia yang serba nggak pasti. Harga-harga naik terus, biaya hidup mahal, gaji gitu-gitu aja, impian punya rumah atau sekadar traveling keliling dunia rasanya makin jauh panggang dari api.
Ketidakpastian ekonomi global dan masalah finansial pribadi itu bukan cuma bikin kantong kering, tapi juga bikin pikiran mumet tujuh keliling. Apalagi kalau ada tekanan jadi "sandwich generation", di mana kita harus menopang keluarga di atas dan juga mikirin masa depan sendiri. Beban mental ini luar biasa berat, dan seringkali kita nggak punya tempat buat cerita atau meluapkan semuanya. Pikiran yang terus-menerus digerogoti kekhawatiran masa depan ini sangat efektif untuk memicu terjadinya burnout.
Budaya "Hustle" yang Menggerus Batasan Diri
Ada anggapan yang mengakar kuat di kepala anak muda: kalau mau sukses, harus kerja keras sampai lupa waktu. Harus selalu produktif, selalu sibuk, bahkan kalau bisa kerja sampai tengah malam. Istilah "hustle culture" ini seolah jadi mantra wajib. Akibatnya, kita jadi sulit banget bilang "tidak" pada pekerjaan tambahan, pada permintaan teman atau atasan, atau bahkan pada diri sendiri yang kadang butuh istirahat.
Batas antara kehidupan pribadi dan profesional jadi buram. Laptop selalu nyala, notifikasi kerjaan berdering di luar jam kerja, dan kita merasa bersalah kalau nggak meresponsnya. Akhirnya, waktu istirahat yang seharusnya jadi ajang recharge malah diisi sama overthinking atau malah lanjut kerja. Padahal, otak dan tubuh kita itu butuh jeda, butuh momen untuk rileks, untuk melakukan hal-hal yang kita nikmati tanpa tekanan. Kalau terus-terusan dipaksa jalan, ya lama-lama mesinnya bakal panas dan mogok alias burnout!
Solusinya Bukan Sekadar "Healing", tapi...
Jadi, kalau udah merasakan tanda-tanda burnout, apa yang harus dilakukan? Bukan cuma sekadar liburan ke pantai atau jajan kopi kekinian sambil bilang "healing" ya. Ada beberapa langkah konkret yang bisa kita coba:
- Mengenali Batasan Diri: Ini kunci utama. Sadari kalau kita punya batas. Nggak perlu sempurna di semua hal, dan nggak semua hal harus kita handle sendiri. Belajar bilang "tidak" itu penting banget lho!
- Prioritaskan Istirahat dan Hobi: Jadwalkan waktu untuk istirahat, untuk melakukan hobi yang benar-benar kita nikmati. Matiin notifikasi kerjaan saat weekend, dan fokus menikmati waktu untuk diri sendiri. Ini bukan buang-buang waktu, tapi investasi untuk kesehatan mental.
- Digital Detox: Coba deh sesekali matikan notifikasi media sosial, atau bahkan puasa medsos seharian. Rasakan perbedaan yang signifikan pada tingkat stres dan mood kita.
- Cari Dukungan: Jangan malu untuk cerita ke orang terdekat yang kamu percaya, entah itu teman, keluarga, atau pasangan. Terkadang, didengar saja sudah sangat membantu. Jika merasa sangat berat, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog. Nggak ada yang salah kok dengan itu!
- Tinjau Ulang Ekspektasi: Hidup itu bukan lomba lari yang harus selalu jadi juara satu. Boleh kok punya impian besar, tapi juga harus realistis. Nggak apa-apa kalau jalannya agak lambat, yang penting maju. Belajar memaklumi diri sendiri dan mensyukuri apa yang sudah ada itu juga bagian dari perjalanan.
Burnout itu bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal dari tubuh dan pikiran kita yang bilang, "Hei, gue butuh istirahat!" Jadi, jangan diabaikan ya. Anak muda itu aset bangsa, masa depan kita. Kalau kita aja udah tumbang duluan, gimana mau membangun impian? Yuk, mulai lebih peduli sama diri sendiri, karena kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Semangat!
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 4 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 3 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 3 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 3 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 2 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 2 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in an hour

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 3 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 29 minutes

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
a minute ago






