Ceritra
Ceritra Update

Aliansi Tanpa Syarat Pyongyang dan Moskow

Nisrina - Saturday, 10 January 2026 | 02:15 PM

Background
Aliansi Tanpa Syarat Pyongyang dan Moskow
Kim Jong Un dan Vladimir Putin (Reuters/KCNA)

Pernyataan tegas pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang menjanjikan dukungan penuh tanpa syarat terhadap seluruh kebijakan Presiden Vladimir Putin bukan sekadar retorika diplomatik biasa melainkan sebuah sinyal alarm yang nyaring bagi tatanan keamanan global. Ikrar kesetiaan ini menandai babak baru dalam hubungan kedua negara yang melampaui sekadar kemitraan strategis tradisional warisan era Perang Dingin. Dalam lanskap politik internasional yang semakin terpolarisasi langkah ini menegaskan terbentuknya sebuah blok kekuatan baru yang secara terbuka menantang dominasi hegemoni Barat. Dukungan tanpa syarat ini mengindikasikan bahwa Pyongyang siap berdiri di garis depan bersama Moskow dalam menghadapi segala tekanan sanksi dan isolasi politik yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Hubungan yang semakin mesra antara kedua negara yang sama-sama dikucilkan oleh komunitas internasional ini sejatinya adalah bentuk simbiosis mutualisme yang lahir dari kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup. Bagi Rusia yang tengah sibuk dengan operasi militer jangka panjang dukungan dari Korea Utara bukan hanya soal moralitas politik tetapi juga menyangkut logistik strategis yang vital. Korea Utara memiliki cadangan amunisi konvensional dalam jumlah masif yang sangat dibutuhkan oleh mesin perang Rusia untuk menjaga intensitas operasinya. Di sisi lain janji dukungan tanpa syarat ini adalah tiket emas bagi Kim Jong Un untuk mendapatkan akses terhadap teknologi militer canggih Rusia terutama dalam pengembangan satelit mata-mata dan teknologi rudal balistik yang selama ini menjadi obsesi rezimnya namun terhambat oleh keterbatasan teknis.

Istilah "tanpa syarat" yang digunakan dalam diplomasi ini mengandung makna yang sangat dalam dan berbahaya bagi stabilitas kawasan Asia Pasifik maupun Eropa. Hal ini menyiratkan bahwa Korea Utara tidak akan ragu untuk membenarkan tindakan apa pun yang diambil oleh Kremlin baik itu terkait invasi wilayah maupun kebijakan luar negeri yang agresif lainnya. Sikap ini memberikan legitimasi tambahan bagi Rusia di panggung dunia bahwa mereka tidak sendirian dan masih memiliki sekutu setia yang memiliki kekuatan militer signifikan. Bagi Korea Utara keberanian untuk menempelkan nasibnya pada Rusia adalah strategi jitu untuk memecahkan isolasi ekonomi yang selama ini mencekik rakyatnya sekaligus mengurangi ketergantungan mutlak mereka pada Tiongkok sebagai satu-satunya pelindung utama.

Dampak dari persahabatan yang semakin erat ini menciptakan efek domino yang memaksa negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan Jepang untuk meninjau ulang strategi pertahanan nasional mereka. Transfer teknologi militer dari Rusia ke Korea Utara berpotensi mempercepat lonjakan kemampuan nuklir Pyongyang yang secara langsung mengancam keseimbangan kekuatan di Semenanjung Korea. Jika sebelumnya ancaman rudal Korea Utara dianggap masih memiliki keterbatasan akurasi maka dengan bantuan teknisi Rusia ancaman tersebut bisa berubah menjadi bahaya presisi tinggi yang nyata. Situasi ini mau tidak mau akan menyeret Amerika Serikat untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut yang pada akhirnya justru semakin memanaskan suhu ketegangan regional.

Selain aspek militer persekutuan ini juga menjadi ujian berat bagi efektivitas sanksi ekonomi yang diterapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ketika dua negara yang terkena sanksi berat memutuskan untuk saling berdagang dan bertukar sumber daya maka mekanisme hukuman global menjadi tumpul dan tidak lagi menakutkan. Rusia memiliki gandum dan minyak yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Korea Utara sementara Korea Utara memiliki tenaga kerja murah dan material militer yang dibutuhkan Rusia. Terbentuknya ekosistem ekonomi tertutup di antara negara-negara revosioner ini membuktikan bahwa tekanan ekonomi dari Barat tidak lagi cukup kuat untuk memaksa perubahan perilaku rezim yang berkuasa melainkan justru mendorong mereka untuk semakin solid bersatu melawan musuh bersama.

Pada akhirnya deklarasi dukungan tanpa syarat dari Kim Jong Un kepada Putin adalah manifestasi dari pergeseran dunia menuju era bipolaritas baru yang lebih kompleks dan tidak terprediksi. Kita tidak lagi hidup di dunia unipolar di mana satu kekuatan besar bisa mendikte aturan main bagi semua negara. Aliansi Moskow dan Pyongyang mengajarkan bahwa kepentingan nasional dan insting bertahan hidup akan selalu mengalahkan norma-norma diplomasi internasional. Dunia kini harus bersiap menghadapi realitas baru di mana "poros perlawanan" ini akan terus bermanuver dan mencari celah untuk meruntuhkan tatanan dunia lama demi menciptakan aturan main baru yang menguntungkan posisi mereka.

Logo Radio
🔴 Radio Live