Alasan Konsistensi Jauh Lebih Mahal Daripada Motivasi
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 12:45 PM


Dunia sering kali terlalu mengagung-agungkan motivasi. Kita melihat video inspiratif, merasa terbakar semangatnya, lalu berjanji akan mengubah hidup dalam semalam. Namun, mengapa semangat berapi-api itu sering kali padam hanya dalam hitungan hari atau minggu? Jawabannya sederhana: motivasi itu seperti percikan api pada korek kayu, ia menyala terang namun cepat habis. Sementara konsistensi adalah kayu bakarnya yang menjaga api tetap menyala sepanjang malam. Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak punya semangat, tetapi karena mereka mengandalkan perasaan (motivasi) untuk bekerja, bukan kedisiplinan (konsistensi).
Konsistensi adalah kemampuan untuk tetap melakukan sesuatu bahkan ketika kita sedang tidak ingin melakukannya. Ini adalah seni melakukan hal-hal membosankan secara berulang-ulang demi tujuan jangka panjang. Pergi ke gym saat badan terasa malas, menulis satu halaman saat ide sedang macet, atau menabung sedikit demi sedikit saat ada godaan diskon. Di sinilah letak perbedaan antara pemimpi dan pemenang. Pemimpi menunggu mood datang baru bekerja, sementara pemenang menciptakan mood dengan mulai bekerja.
Kekuatan konsistensi terletak pada efek majemuk atau compound effect. Tindakan kecil yang dilakukan setiap hari mungkin tidak terlihat hasilnya dalam seminggu atau sebulan. Namun jika ditarik dalam kurun waktu setahun, akumulasi dari tindakan kecil itu akan menciptakan ledakan hasil yang luar biasa. Ibarat tetesan air yang melubangi batu, bukan karena kekuatan airnya, tetapi karena keseringannya. Kita sering meremehkan apa yang bisa kita capai dalam jangka panjang karena kita terlalu fokus pada hasil instan jangka pendek.
Membangun konsistensi memang menyakitkan di awal karena kita harus melawan inersia atau kecenderungan untuk diam. Otak manusia didesain untuk mencari kenyamanan dan menghemat energi. Melakukan rutinitas baru dianggap sebagai ancaman bagi kenyamanan tersebut. Namun, jika kita berhasil melewati fase resistensi awal ini, konsistensi akan berubah menjadi kebiasaan atau habit. Ketika sudah menjadi kebiasaan, melakukannya tidak lagi butuh energi besar, justru rasanya akan aneh jika tidak melakukannya.
Maka dari itu, berhentilah menunggu datangnya "wangsit" atau motivasi untuk mulai bergerak. Motivasi adalah tamu yang tidak bisa diandalkan kedatangannya. Bangunlah sistem dan jadwal yang memaksamu untuk tetap bergerak walau pelan. Ingatlah bahwa langkah kecil yang dilakukan terus-menerus akan membawamu lebih jauh daripada lompatan besar yang hanya dilakukan sekali lalu berhenti. Konsistensi mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin, dan hal yang sulit menjadi rutinitas.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 3 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 2 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 2 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 2 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in an hour

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 41 minutes

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 11 minutes

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 2 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
an hour ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
an hour ago






