Alasan Kenapa Masa SMA Selalu Identik dengan Drama Cinta
Shannon - Tuesday, 30 June 2026 | 06:00 PM


Putih Abu-Abu, Cinta Monyet, dan Penyesalan yang Baru Terasa Pas Sudah Kerja
Kalau kita bicara soal masa SMA, hal pertama yang terlintas di kepala biasanya bukan soal rumus integral atau menghafal tabel periodik. Yang muncul justru memori tentang kantin, nongkrong di parkiran, dan tentu saja drama percintaan. Ada semacam tekanan sosial tak kasat mata yang bilang kalau nggak pacaran di SMA itu nggak keren, kurang pergaulan, atau bahkan dianggap nggak laku. Kita ngerasa dunia ini cuma milik berdua, sisanya cuma figuran yang lewat buat menuhin frame.
Tapi, mari kita tarik napas dalam-dalam dan coba jujur pada diri sendiri. Setelah melewati fase itu dan sekarang mungkin sudah jadi budak korporat atau mahasiswa tingkat akhir yang pusing mikirin skripsi, kita baru sadar: pacaran masa SMA itu sebenarnya nggak worth it sama sekali. Kedengarannya memang sinis, tapi ini adalah kebenaran pahit yang biasanya baru kita telan bulat-bulat pas nasi sudah jadi bubur.
Kenapa Nasehat Orang Tua Sering Kita Anggap Angin Lalu?
Ingat nggak waktu Ibu atau Bapak bilang, "Sudah, fokus sekolah dulu, nggak usah mikir pacaran?" Reaksi kita saat itu pasti muter bola mata, atau paling banter ngebatin, "Ah, Mama Papa nggak asik, mereka kan nggak tahu rasanya jatuh cinta di generasi sekarang." Kita ngerasa mereka itu kolot dan nggak relate sama perkembangan zaman.
Padahal, nasehat orang tua itu ibarat terms and conditions di aplikasi yang sering kita klik "agree" tanpa dibaca. Kita baru ngerasa rugi pas ada masalah muncul. Orang tua melarang bukan karena mereka benci kita bahagia. Mereka melarang karena mereka sudah pernah nonton film yang kita jalani sekarang, dan mereka tahu endingnya bakal gantung atau bahkan sedih. Mereka tahu kalau emosi anak umur 16-17 tahun itu masih setipis tisu dibagi dua gampang sobek dan sangat labil.
Mengikuti kata orang tua itu bukan berarti kita jadi anak rumahan yang nggak punya kehidupan. Itu adalah strategi manajemen risiko. Mereka pengen kita punya pondasi yang kuat dulu sebelum masuk ke dunia komitmen yang sebenarnya. Sayangnya, ego masa remaja seringkali lebih besar daripada akal sehat.
Investasi Bodong Bernama Pacaran SMA
Kalau kita pakai logika ekonomi, pacaran di SMA itu ibarat investasi bodong. Kita keluar modal banyak waktu, energi, perasaan, sampai uang jajan tapi return of investment-nya hampir nol besar. Berapa banyak sih pasangan SMA yang benar-benar berakhir di pelaminan dan hidup bahagia selamanya? Mungkin ada, tapi jumlahnya nggak lebih banyak dari orang yang menang giveaway iPhone di Instagram.
Beberapa alasan kenapa ini disebut nggak worth it antara lain:
- Distraksi Akademik yang Nyata: Waktu yang harusnya dipake buat belajar SNBT atau ngasah skill malah habis buat berantem lewat WhatsApp gara-gara hal sepele, kayak lupa ngabarin pas mau tidur.
- Drainase Emosional: Putus cinta di masa SMA rasanya kayak kiamat sudah dekat. Padahal itu cuma hormon yang lagi meledak-ledak. Energi yang habis buat galau itu harusnya bisa dipakai buat hal yang lebih produktif.
- Membatasi Pergaulan: Biasanya kalau sudah punya pacar, dunia jadi sempit. Kita jadi jarang main sama temen-temen karena harus nemenin pacar terus. Padahal masa SMA adalah waktu terbaik buat bangun networking seluas-luasnya.
Banyak dari kita yang akhirnya nyesel karena baru sadar kalau nilai raport atau kesempatan masuk universitas impian jadi berantakan cuma demi seseorang yang sekarang namanya pun sudah kita hapus dari kontak atau kita mute story-nya di Instagram.
Kamu Nggak Akan Tahu Kalau Belum Mengalami (Dan Menyesal)
Masalahnya adalah, anak SMA itu punya semacam 'kekebalan' terhadap nasehat. Mau dikasih tahu seribu kali pun, biasanya tetap bakal diterjang juga. Ada semacam rasa penasaran yang membuncah. Kita ngerasa kalau kita adalah pengecualian. "Ah, hubungan kita beda kok sama yang lain, kita bakal langgeng." Premis klise ini yang seringkali menjerumuskan.
Penyesalan itu sifatnya retrospektif. Dia datang pas kita sudah punya jarak sama kejadiannya. Pas kita sudah umur 23 atau 25, kita bakal lihat ke belakang dan mikir, "Ngapain ya dulu gue nangis-nangis di pojokan kamar cuma gara-gara diputusin si dia? Padahal kalau waktu itu gue fokus ikut kursus bahasa Inggris atau les gitar, mungkin sekarang gue lebih kompeten."
Rasa nyesel ini nggak enak banget. Rasanya kayak kita sudah buang-buang kaset berharga buat merekam hal yang nggak penting. Kita kehilangan momen-momen emas untuk membentuk jati diri karena terlalu sibuk berusaha menyenangkan orang lain yang statusnya pun masih "cinta monyet".
Fokus ke Diri Sendiri Itu Lebih Seksi
Buat kalian yang mungkin sekarang masih SMA dan lagi bimbang mau nembak gebetan atau nggak, coba pikirkan lagi. Masa depan itu panjang banget. Dunia luar setelah lulus sekolah itu jauh lebih kejam dan butuh kesiapan mental serta skill yang mumpuni. Pacaran bisa nunggu nanti pas kita sudah punya prinsip dan sudah tahu mau jadi apa.
Percayalah, mengejar prestasi dan hobi itu jauh lebih membanggakan daripada sekadar pamer status di bio media sosial. Nanti, pas kamu sudah sukses, kamu bakal berterima kasih sama diri kamu sendiri yang dulu memilih buat nggak "ngikutin arus" dan lebih milih buat dengerin apa kata orang tua.
Pada akhirnya, masa SMA memang harus dilewati dengan segala dramanya. Tapi kalau bisa melewati masa itu tanpa beban emosional yang nggak perlu, kenapa harus milih jalan yang susah? Jangan sampai kamu jadi salah satu orang yang nulis di kolom komentar media sosial, "Tahu gitu dulu gue dengerin kata Mama," sambil meratapi waktu yang nggak bisa diputar kembali.
Next News

Chemistry Kuat Gara-gara Selera Lagu: Apakah Ini Tanda Jodoh?
2 hours ago

Tren Pamer Hal Kecil Pasangan: Bare Minimum atau Effort Nyata?
6 days ago

Ngaku Single Tapi Inbox Penuh Perhatian, Kamu Termasuk?
7 days ago

Satu Kampus Satu Kantor Alasan Pasangan Satu Paket Makin Tren
7 days ago

Tetap Dicintai Meski Berantakan, Ini Kunci Jujur pada Pasangan
11 days ago

Seni Melihat Keindahan dalam Hal Terkecil Kehidupan: Romanticizing Life
13 days ago

FYP, Crush, dan Istilah Relationship: Kenapa Bocil Sekarang Ikut Tren Orang Dewasa?
15 days ago

Mencintai Potensinya, Bukan Dirinya: Ketika Harapan Menutupi Kenyataan
21 days ago

Dua Hati yang Sama-Sama Sensitif: Romantis atau Berisiko?
21 days ago

Menyingkap Misteri Kejutan Otak: Dari Déjà Vu, Nostalgia, Flashback, Apa Bedanya?
a month ago






