Ceritra
Ceritra Warga

4 Praktik Korupsi Kecil Mahasiswa di Lingkungan Kampus

Nisrina - Friday, 13 February 2026 | 05:15 PM

Background
4 Praktik Korupsi Kecil Mahasiswa di Lingkungan Kampus
Ilustrasi (Instagram/@simak_stiami)

Ketika mendengar kata korupsi pikiran kita secara otomatis akan langsung tertuju pada para pejabat tinggi negara berseragam oranye yang menggelapkan uang rakyat hingga miliaran rupiah. Mahasiswa sering kali menjadi kelompok pertama yang turun ke jalan berteriak paling lantang membawa spanduk untuk memprotes dan menuntut keadilan atas tindakan culas tersebut. Kampus selalu diidealkan sebagai benteng moral dan pusat intelektualitas yang bersih dari intrik kotor.

Namun mari kita sejenak menurunkan spanduk protes tersebut dan mengambil cermin besar untuk melihat ke dalam lingkungan akademis kita sendiri. Kampus pada hakikatnya adalah miniatur sebuah negara. Di sinilah karakter kebiasaan dan integritas para calon pemimpin bangsa dibentuk serta diuji setiap harinya. Sayangnya tanpa disadari banyak mahasiswa yang justru mulai memupuk bibit bibit koruptor dari ruang kelas dan ruang sekretariat organisasi.

Bibit penyakit ini sering disebut sebagai kejahatan akademis ringan atau korupsi kecil kecilan. Praktik ini begitu sering dilakukan hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kewajaran atau budaya kampus belaka. Pembenaran atas nama solidaritas pertemanan atau desakan waktu sering kali menjadi tameng untuk menutupi matinya hati nurani. Artikel ini akan membongkar tuntas empat bentuk nyata korupsi kecil yang paling sering dilakukan mahasiswa agar kita semua bisa mulai memutus rantai keburukan ini dari akarnya.

Memanipulasi Kehadiran Melalui Titip Absen

Praktik pertama dan yang paling legendaris di dunia perkuliahan adalah fenomena titip absen atau yang sering disingkat sebagai TA. Skemanya sangat sederhana namun sangat merusak. Seorang mahasiswa yang bangun kesiangan malas berangkat ke kampus atau sedang sibuk mengurus urusan pribadi akan meminta temannya untuk memalsukan tanda tangannya di lembar kehadiran atau menitipkan kartu mahasiswa miliknya untuk dipindai oleh teman tersebut.

Banyak mahasiswa yang menganggap bahwa titip absen hanyalah bentuk tolong menolong antar sahabat. Padahal jika dibedah secara esensial ini adalah bentuk nyata dari korupsi waktu dan manipulasi data. Mahasiswa tersebut sedang mencuri hak kehadiran yang tidak pernah ia penuhi dan berbohong kepada institusi pendidikannya.

Bayangkan jika kebiasaan memalsukan tanda tangan dan memanipulasi daftar kehadiran ini terus terbawa hingga mereka memasuki dunia kerja profesional atau institusi pemerintahan. Mereka tidak akan merasa bersalah saat membolos kerja di jam kantor atau memalsukan dokumen laporan harian karena otak mereka sudah dinormalisasi oleh kebiasaan titip absen sejak zaman kuliah.

Plagiarisme Parah dan Penggunaan Jasa Joki Tugas

Dunia akademis menjunjung tinggi kejujuran dan orisinalitas pemikiran. Namun godaan untuk mendapatkan nilai tinggi dengan cara instan sering kali meruntuhkan idealisme tersebut. Praktik menyalin tempel karya orang lain dari internet tanpa menyertakan sumber yang jelas atau plagiarisme adalah bentuk korupsi intelektual yang paling hina di lingkungan kampus.

Lebih parah lagi di era digital saat ini muncul industri gelap di sekitar kampus yang menawarkan jasa joki tugas akademik. Mulai dari joki pembuatan esai joki pengerjaan tugas akhir hingga joki penyusunan skripsi semuanya tersedia dengan tarif tertentu. Mahasiswa yang menggunakan jasa ini pada dasarnya sedang menyuap orang lain untuk memalsukan kompetensi intelektualnya.

Ketika seorang mahasiswa lulus dengan predikat memuaskan berkat bantuan joki ia sebenarnya sedang melakukan penipuan massal terhadap masyarakat luas yang nantinya akan menggunakan jasanya. Korupsi intelektual ini merampas hak mahasiswa lain yang benar benar bekerja keras memeras keringat di perpustakaan untuk menyusun karyanya sendiri.

Mark Up Anggaran dan Manipulasi Nota Kegiatan

Mahasiswa yang aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa atau himpunan jurusan sering kali dipercaya untuk mengelola dana kegiatan organisasi yang jumlahnya tidak sedikit. Dana tersebut bisa berasal dari iuran mahasiswa subsidi kampus atau bantuan dari pihak sponsor. Di sinilah ujian integritas finansial yang sesungguhnya terjadi.

Praktik korupsi anggaran yang paling sering ditemukan dalam kepanitiaan kampus adalah permintaan nota kosong kepada pihak vendor atau tempat fotokopi. Panitia akan menulis sendiri nominal harga yang jauh lebih tinggi atau di mark up dari harga aslinya pada nota tersebut. Selisih uang dari harga asli dan harga di nota akan masuk ke kantong pribadi atau digunakan untuk foya foya panitia.

Mereka sering membela diri dengan alasan bahwa uang selisih tersebut digunakan untuk menutupi pengeluaran divisi lain yang kekurangan dana. Namun apa pun alasannya mengubah angka pelaporan keuangan demi keuntungan sepihak adalah definisi paling murni dari penggelapan dana. Mahasiswa yang terbiasa melakukan mark up nota kepanitiaan adalah calon potensial yang akan melakukan korupsi proyek pembangunan saat mereka menjadi pejabat publik kelak.

Menjadi Free Rider atau Parasit dalam Tugas Kelompok

Dosen sering kali memberikan tugas kelompok dengan tujuan untuk melatih kemampuan kolaborasi kerja sama tim dan pembagian beban kerja yang adil. Sayangnya hampir di setiap kelompok selalu saja ada satu tipe mahasiswa yang hanya menumpang nama tanpa memberikan kontribusi apa pun. Mahasiswa tipe ini dikenal dengan sebutan free rider.

Mereka akan selalu memiliki ribuan alasan saat diajak berdiskusi mulai dari alasan sakit sibuk rapat organisasi hingga pura pura lupa. Namun ketika tugas tersebut sudah selesai dikerjakan dengan susah payah oleh anggota kelompok lainnya mereka akan muncul di detik detik terakhir dan memastikan namanya tercetak dengan huruf tebal di halaman sampul makalah.

Mengklaim hasil kerja keras orang lain sebagai hasil kerjanya sendiri demi mendapatkan nilai kelulusan adalah bentuk pencurian keringat. Perilaku parasit ini melatih mahasiswa untuk menjadi manusia oportunis yang suka mencari aman menghindari tanggung jawab namun selalu ingin tampil di depan untuk menerima penghargaan.

Menghentikan Rantai Kebiasaan Buruk

Sangat munafik rasanya jika kita terus menerus mengutuk para koruptor di luar sana sementara kita sendiri masih memelihara bibit kebiasaan culas di dalam lingkungan kampus. Memutus rantai korupsi tidak bisa hanya mengandalkan undang undang atau lembaga pemberantasan dari pemerintah. Perubahan harus dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu kesadaran individu setiap mahasiswa.

Berhentilah menormalisasi kebiasaan titip absen. Tolaklah dengan tegas jika teman Anda meminta bantuan untuk memalsukan kehadirannya karena teman yang baik tidak akan menjerumuskan sahabatnya menjadi seorang pembohong. Kerjakan tugas Anda sendiri seburuk apa pun hasilnya karena nilai dari sebuah proses kejujuran jauh lebih berharga daripada deretan angka indeks prestasi kumulatif yang didapat dari hasil kecurangan.

Kampus adalah laboratorium peradaban manusia. Jika produk yang dihasilkan dari laboratorium ini dipenuhi dengan individu individu bermental curang maka kehancuran sebuah bangsa hanyalah masalah waktu. Mari kita jadikan lingkungan akademis sebagai tempat yang benar benar bersih di mana integritas ditegakkan bukan hanya dalam bentuk orasi di jalanan melainkan dalam setiap tindakan kecil di ruang kelas dan kehidupan sehari hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live