Ceritra
Ceritra Cinta

Sisi Puitis di Balik Masalah Hidup ala Genre Film Coming of Age

Shannon - Wednesday, 01 July 2026 | 11:00 AM

Background
Sisi Puitis di Balik Masalah Hidup ala Genre Film Coming of Age
Timothée Chalamet as Elio, in Call Me By Your Name (net-a-porter.com/)

Seni Romantisasi Perasaan: Mengapa Kita Nyaman Nonton Film Coming of Age?

Pernah nggak sih, kamu lagi duduk di dalam bus atau kereta yang kacanya kena rintik hujan, terus tiba-tiba kamu pakai earphone, muter lagu indie yang mendayu-dayu, dan seketika merasa hidupmu lagi disorot kamera film A24? Kalau jawabannya iya, selamat, kamu sedang terjangkit sindrom "main character" yang biasanya dipicu oleh keseringan nonton film coming of age. Genre ini memang punya kekuatan magis buat bikin hal-hal paling remeh dalam hidup kita kayak patah hati pas SMA atau bingung mau kerja apa setelah lulus jadi kelihatan sangat estetik dan puitis.

Film coming of age itu sebenarnya simpel. Intinya cuma soal transisi dari anak-anak atau remaja menuju dewasa. Tapi, entah kenapa, para sineas selalu punya cara buat ngebikin rasa bingung dan "feeling deep" itu jadi sesuatu yang bikin kita ketagihan. Kita nggak cuma nonton karakter utamanya tumbuh, tapi kita kayak divalidasi kalau rasa sakit dan kebingungan yang kita alami itu adalah bagian dari sebuah narasi besar yang indah.

Vibes, Estetika, dan Soundtrack yang "Deep" Banget

Kalau kita bicara soal film coming of age, kita nggak bisa lepas dari urusan visual. Coba lihat Lady Bird, The Perks of Being a Wallflower, atau mungkin yang agak baru dan nyesek banget kayak Aftersun. Ada satu kesamaan: mereka jago banget memainkan emosi lewat saturasi warna dan komposisi gambar. Ada kesan nostalgia yang kental, seolah-olah masa muda itu selalu diselimuti cahaya matahari sore yang hangat (golden hour) atau lampu neon kota yang melankolis.

Romantisasi ini makin menjadi-jadi berkat pemilihan soundtrack. Bayangkan kalau adegan Sam di Perks of Being a Wallflower berdiri di atas mobil bak terbuka saat melewati terowongan itu nggak pakai lagu "Heroes" milik David Bowie. Rasanya pasti beda. Mungkin cuma bakal kelihatan kayak anak muda yang lagi bahayain nyawa di jalan raya. Tapi karena musiknya pas, adegan itu jadi simbol kebebasan yang hakiki. Di sinilah letak "jebakannya": film-film ini bikin kita percaya kalau kesedihan kita itu punya soundtrack-nya sendiri.

Di Indonesia sendiri, genre ini juga punya tempat spesial. Kita punya Ada Apa Dengan Cinta? yang bikin satu generasi merasa kalau nunggu cinta di bandara itu puitis banget. Atau yang lebih kontemporer kayak Ali & Ratu Ratu Queens yang ngebawa isu pencarian jati diri sampai ke New York. Semuanya menawarkan satu hal yang sama: validasi terhadap perasaan-perasaan "deep" yang kadang susah kita jelasin ke orang tua atau teman sebaya.

Kenapa Kita Begitu Menikmati "Rasa Sakit" yang Estetik?

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih kita suka banget nonton film yang bikin sedih atau bikin kita mikir keras soal hidup? Jawabannya mungkin karena di dunia nyata, tumbuh dewasa itu berantakan banget. Nggak ada skrip, nggak ada musik latar yang muncul tiba-tiba saat kita lagi nangis di kamar, dan yang jelas, nggak ada filter warna yang bikin jerawat kita kelihatan estetik.

Film coming of age memberikan semacam "pelarian" sekaligus "cermin". Kita melihat diri kita di layar, tapi dalam versi yang lebih terkurasi. Saat nonton karakter yang lagi struggling sama identitasnya, kita merasa nggak sendirian. Perasaan "feeling deep" ini sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri. Kita pengen percaya kalau rasa sakit yang kita rasakan sekarang itu ada tujuannya, ada ujungnya, dan suatu saat bakal jadi cerita yang bagus buat dikenang.

Lucunya, romantisasi ini seringkali bikin kita jadi "puitis dadakan". Habis nonton film model begini, biasanya feed Instagram atau Twitter (sekarang X) bakal penuh sama kutipan-kutipan galau yang sok filosofis. "We accept the love we think we deserve," atau "I want to be infinite." Kedengarannya emang agak cringe kalau diingat-ingat pas kita udah beneran dewasa, tapi hey, bukankah masa muda memang tempatnya buat jadi cringe?

Antara Realitas dan Ekspektasi Layar Lebar

Tapi, ada satu sisi gelap dari terlalu banyak mengonsumsi film coming of age yang romantis banget. Kadang kita jadi punya ekspektasi kalau hidup itu harus selalu punya momen "puncak". Kita nungguin momen di mana masalah kita selesai dengan sebuah pidato hebat di depan kelas, atau seseorang yang tiba-tiba datang bawa tape recorder di bawah jendela kamar kita. Padahal, kenyataannya, kedewasaan itu seringkali datang lewat cicilan motor yang harus dibayar atau rutinitas kantor yang ngebosenin.

Realitanya, "feeling deep" itu nggak selalu berarti kita lagi berproses jadi orang hebat. Kadang ya kita cuma lagi capek aja. Tapi ya balik lagi, nggak ada salahnya sih sesekali ngebayangin hidup kita itu disutradarai oleh Greta Gerwig atau Wes Anderson. Romantisasi itu perlu buat menjaga kesehatan mental di tengah dunia yang makin nggak masuk akal ini. Selama kita tahu kapan harus berhenti melamun dan mulai bayar tagihan listrik, ya aman-aman aja.

Kesimpulan: Masa Muda yang Berantakan Tetaplah Indah

Pada akhirnya, film-film coming of age bukan cuma soal jualan kesedihan atau estetika anak senja. Mereka adalah pengingat kalau menjadi manusia itu berat, apalagi pas lagi transisi jadi dewasa. Genre ini merayakan ketidakpastian. Mereka bilang ke kita kalau nggak apa-apa kok kalau kamu belum tahu mau jadi apa. Enggak apa-apa kalau kamu ngerasa paling sedih sedunia karena putus cinta pertama kali.

Jadi, kalau nanti malam kamu ngerasa dunia lagi nggak berpihak sama kamu, coba deh matiin lampu kamar, nyalain laptop, dan tonton lagi film coming of age favoritmu. Biarin dirimu tenggelam dalam perasaan "deep" itu. Nangis dikit nggak apa-apa, ngerasa jadi orang paling puitis sedunia juga boleh. Karena toh, pada akhirnya kita semua adalah karakter utama dalam film kita masing-masing, lengkap dengan segala kekacauan dan momen-momen manis yang nggak akan terulang lagi.

Mungkin hidup kita nggak bakal punya sinematografi sekelas film Oscar, tapi selama kita masih bisa ngerasain emosi yang jujur, rasanya itu sudah lebih dari cukup. Stay deep, stay aesthetic, tapi jangan lupa makan ya!

Logo Radio
🔴 Radio Live