Program Makan Bergizi Gratis yang Bikin Geleng Kepala
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 11:15 AM


Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang digadang-gadang sebagai terobosan besar pemerintah belakangan ini justru memantik tanda tanya besar di benak publik. Alih-alih disambut dengan tepuk tangan meriah, pelaksanaan di lapangan malah menyisakan banyak kejanggalan yang membuat kita mengelus dada. Salah satu yang paling santer terdengar adalah beredarnya kabar mengenai masuknya produk susu kemasan dengan tulisan asing, yang diduga kuat berasal dari China, ke dalam paket yang dibagikan. Fenomena ini tentu menampar logika kita. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi dengan peternak sapi perah yang tersebar dari Lembang hingga Pujon, mengapa harus ada produk impor yang menyusup? Narasi pemberdayaan ekonomi lokal yang sering didengungkan seolah runtuh seketika saat kita melihat kemasan asing di tangan anak-anak kita.
Kanehan tidak berhenti pada urusan asal-usul susu semata. Kebijakan teknis pembagian jatah makan ini pun terasa sangat dipaksakan dan kurang membumi. Bayangkan saja, di saat anak-anak sekolah sedang menikmati masa liburan akhir semester yang seharusnya menjadi waktu istirahat total, mereka justru "dipaksa" kembali ke sekolah hanya untuk mengambil jatah susu atau makanan per beberapa minggu sekali. Logika sederhananya, jika sekolah libur, maka kegiatan sekolah pun libur. Mewajibkan siswa atau orang tua bolak-balik ke sekolah di hari libur hanya demi mengambil paket makanan terasa seperti birokrasi yang kaku dan tidak memikirkan kenyamanan keluarga. Bukannya menikmati liburan, orang tua malah direpotkan dengan jadwal pengambilan yang sebenarnya bisa dirapel atau diatur dengan cara yang lebih manusiawi saat sekolah aktif kembali.
Kritik pedas juga membanjiri lini masa media sosial terkait isi dari paket yang dilabeli "bergizi" tersebut. Ekspektasi masyarakat tentu adalah makanan sehat dengan komposisi protein, sayur, dan karbohidrat yang seimbang layaknya standar gizi nasional. Namun realitas yang diterima oleh adik-adik kita sering kali jauh panggang dari api. Banyak laporan yang menunjukkan bahwa paket tersebut isinya tak lebih dari sekadar jajanan kemasan atau snack ringan yang biasa kita temukan dalam bingkisan ulang tahun anak balita. Ada biskuit manis, susu kotak gula tinggi, dan ciki-cikian yang nilai gizinya patut diperdebatkan. Menyebut paket jajanan warung seperti ini sebagai "makan bergizi" rasanya adalah sebuah eufemisme yang menyesatkan.
Gelombang protes di media sosial menjadi cermin betapa masyarakat kita sebenarnya kritis dan tidak bisa dibodohi begitu saja. Banyak warganet yang menyuarakan kekecewaan mereka dengan nada satir, mempertanyakan apakah program ini benar-benar didesain untuk kesehatan anak bangsa atau sekadar proyek kejar tayang demi menghabiskan anggaran tahunan. Rasa-rasanya program ini seperti "diada-adakan" tanpa riset mendalam mengenai kebutuhan riil di lapangan. Membagikan makanan ultra-proses kepada anak-anak dengan dalih perbaikan gizi justru berpotensi menciptakan masalah kesehatan baru jangka panjang seperti obesitas atau diabetes dini.
Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan telinga lebar-lebar terhadap kritik ini. Jangan sampai program yang memakan anggaran triliunan rupiah ini hanya berakhir menjadi seremonial belaka tanpa dampak kesehatan yang nyata. Jika memang belum siap dengan infrastruktur dapur umum yang higienis dan rantai pasok bahan segar dari petani lokal, lebih baik program ini dievaluasi total. Rakyat tidak butuh janji manis atau susu impor; rakyat butuh keseriusan negara dalam mengurus perut generasi penerusnya dengan akal sehat, bukan dengan kebijakan yang terlihat kocak dan asal jalan.
Next News

Tak Punya Pohon Kakao, Tapi Swiss Jadi Raja Cokelat Dunia, Ini Rahasianya
in 7 hours

Di Balik Keputusan Elon Musk Membungkam Sisi Liar Grok
in 5 hours

Strategi Evelyn Afnilia Membidik Momen Emas Lebaran 2026 Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
in 4 hours

FIX! Jakarta Masuk Daftar, BTS Resmi Gelar Tur Dunia 2026!
in 4 hours

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
in 2 hours

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
3 minutes ago

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
in an hour

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
2 hours ago

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
18 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
19 hours ago






