Ceritra
Ceritra Warga

Obat Kecemasan Eksistensial dan Cara Berdamai dengan Realita Hidup

Nisrina - Saturday, 21 March 2026 | 11:45 AM

Background
Obat Kecemasan Eksistensial dan Cara Berdamai dengan Realita Hidup
Ilustrasi (Shutterstock/)

Pernah nggak sih, kamu lagi asyik scrolling TikTok di jam dua pagi, terus tiba-tiba kepikiran: "Besok dunia kiamat nggak ya?" atau minimal "Tahun depan gue masih bisa beli kopi susu nggak ya kalau harga bensin naik terus?" Kalau iya, selamat, kamu resmi jadi warga dunia modern yang sedang mengidap gejala kecemasan eksistensial alias takut sama ketidakpastian.

Jujur aja, hidup di zaman sekarang itu rasanya kayak main game tapi level kesulitannya di-set ke hard dan nggak ada buku panduannya. Dulu, zaman orang tua kita, jalurnya kayaknya jelas banget. Sekolah, kuliah, jadi PNS atau pegawai tetap, nikah, punya anak, pensiun, selesai. Sekarang? Baru mau napas bentar, tiba-tiba ada tren AI yang katanya mau gantiin kerjaan kita. Baru mau nabung dikit, eh, ada godaan promo tiket konser atau flash sale yang bikin dompet nangis. Dunia bergerak secepat kilat, dan kita seringkali cuma bisa melongo di pojokan sambil mikir, "Ini gue harus gimana ya?"

Kenapa Kita Begitu Takut Sama "Besok"?

Sebenarnya, ketidakpastian itu bukan barang baru. Dari zaman manusia purba lari-lari dikejar singa juga udah ada. Bedanya, dulu ancamannya nyata dan kelihatan. Sekarang, ancamannya itu abstrak. Kita takut nggak relevan, takut ketinggalan (FOMO), takut gagal sebelum mencoba, sampai takut sama algoritma yang mendikte selera kita. Kita hidup di era informasi yang saking banyaknya malah bikin kita lumpuh karena terlalu banyak pilihan.

Kita sering terjebak dalam pikiran bahwa kita harus punya rencana lima tahunan yang sempurna. Padahal, jangankan lima tahun, rencana buat makan siang nanti aja bisa berubah gara-gara tiba-tiba hujan atau ada temen yang ngajak makan bareng. Ketidakpastian itu bikin kita ngerasa nggak punya kendali, dan buat manusia yang emang dasarnya pengen dominan, nggak punya kendali itu rasanya kayak naik roller coaster tapi nggak pake pengaman. Horor, kan?

Berhenti Mencoba Jadi "Tuhan" Atas Hidup Sendiri

Salah satu resep biar nggak gila-gila banget menghadapi dunia yang labil ini adalah dengan sadar diri. Kita harus paham mana yang bisa kita kontrol dan mana yang nggak. Ekonomi global lagi berantakan? Ya kita nggak bisa apa-apa kecuali hemat. Perusahaan tempat kerja lagi goyang? Kita nggak bisa maksa bos buat nggak PHK orang, tapi kita bisa mulai update CV atau belajar skill baru.

Istilah kerennya sih Stoikisme, tapi kalau kita sederhanakan pakai bahasa tongkrongan: "Ya sudahlah, yang penting gue udah usaha." Fokus ke apa yang ada di depan mata. Kalau kamu terlalu fokus sama apa yang bakal terjadi di tahun 2030, kamu bakal lupa nikmatin seblak yang ada di depan kamu sekarang. Padahal, seblak itu nyata, sementara tahun 2030 itu masih sebatas kemungkinan di awang-awang.

Fleksibilitas Adalah Ninja Skill Baru

Kalau dulu orang yang paling sukses adalah yang paling kuat atau paling pintar, sekarang yang paling sukses adalah yang paling fleksibel. Kayak karet, kalau ditarik nggak langsung putus, tapi bisa menyesuaikan diri. Jangan terlalu kaku sama rencana hidup. Kalau kamu punya cita-cita jadi astronot tapi malah nyemplung jadi admin media sosial, ya dinikmati aja dulu sambil cari celah.

Banyak dari kita yang stres karena kenyataan nggak sesuai sama ekspektasi. Padahal, masalahnya seringkali bukan di kenyataannya, tapi di ekspektasinya yang terlalu kaku. Dunia modern itu cair banget. Perusahaan bisa bangkrut dalam semalam, tren bisa ganti dalam hitungan jam. Kalau kita terlalu kaku, kita bakal patah. Tapi kalau kita cair kayak air, kita bisa masuk ke wadah mana pun. Intinya, go with the flow tapi tetep punya dayung, jangan cuma hanyut doang jadi sampah plastik.

Istirahat Itu Bukan Dosa

Satu hal lagi yang sering kita lupain di tengah ketidakpastian ini: istirahat. Kita ngerasa kalau kita berhenti bentar, kita bakal ketinggalan jauh. Akhirnya kita hustle culture mati-matian, kerja sampe tipus, ujung-ujungnya duitnya habis buat berobat. Kan konyol.

Menghadapi ketidakpastian butuh mental yang sehat. Dan mental yang sehat nggak bakal bisa didapet kalau kurang tidur dan kebanyakan kopi. Sesekali, matikan notifikasi HP. Keluar rumah tanpa tujuan, atau sekadar bengong ngelihatin awan. Dunia nggak bakal kiamat cuma gara-gara kamu nggak bales chat kerjaan dalam sepuluh menit. Memberi jarak antara diri kita dengan hiruk-pikuk dunia itu penting banget biar kita nggak kehilangan kewarasan.

Penutup: Kita Semua Sama-Sama Bingung

Terakhir, inget satu hal ini: kamu nggak sendirian. Semua orang, mau itu CEO perusahaan besar atau abang nasi goreng di ujung jalan, sebenarnya sama-sama nggak tahu apa yang bakal terjadi besok. Bedanya cuma ada yang pinter akting tenang dan ada yang paniknya kelihatan banget. Kita semua lagi sama-sama ngeraba-raba di kegelapan.

Jadi, nggak perlu terlalu keras sama diri sendiri. Kalau hari ini kamu ngerasa buntu dan bingung mau ngapain, ya nggak apa-apa. Tarik napas, minum air putih, dan sadari kalau ketidakpastian itu adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup. Alih-alih dilawan sampai stres, mending kita ajak kenalan. Anggap aja ketidakpastian itu bumbu biar hidup nggak hambar-hambar amat. Siapa tahu, di balik ketidakpastian itu justru ada kejutan-kejutan seru yang nggak pernah kamu bayangin sebelumnya. Tetap semangat, ya!

Logo Radio
🔴 Radio Live