Langkah Berani Prancis Lindungi Mental Anak dari Medsos
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 09:45 AM


Di belahan dunia lain, tepatnya di Prancis, sebuah revolusi digital sedang digodok dengan sangat serius demi menyelamatkan masa depan generasi penerus. Pemerintah Prancis tengah mempersiapkan aturan ketat yang akan melarang anak-anak di bawah usia 15 tahun untuk mengakses media sosial. Wacana ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons darurat atas krisis kesehatan mental yang melanda remaja akibat paparan layar yang tidak terkendali. Ini adalah langkah "tangan besi" yang didasari oleh niat mulia untuk mengembalikan masa kecil anak-anak yang telah direnggut oleh algoritma.
Fenomena anak-anak yang kecanduan media sosial memang sudah menjadi keresahan universal orang tua di seluruh dunia, termasuk kita. Di usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain di taman, berinteraksi fisik dengan teman sebaya, dan belajar mengenali emosi, mereka justru terjebak dalam dunia maya yang penuh kepalsuan. Cyberbullying, standar kecantikan yang tidak realistis, hingga konten kekerasan menjadi makanan sehari-hari yang meracuni otak mereka yang belum matang. Langkah Prancis ini seolah menjadi tamparan bagi kita semua bahwa "memberi gadget agar anak diam" adalah bom waktu yang berbahaya.
Penerapan aturan ini tentu akan menghadapi tantangan teknis yang tidak mudah, terutama dalam hal verifikasi usia yang akurat. Namun, keberanian Prancis untuk setidaknya memulai inisiatif ini patut diacungi jempol. Mereka menyadari bahwa perusahaan teknologi raksasa tidak akan pernah secara sukarela membatasi pengguna muda karena anak-anak adalah komoditas data yang menguntungkan. Oleh karena itu, negara harus hadir sebagai "orang tua asuh" yang tegas memberikan batasan demi melindungi warganya yang paling rentan.
Bayangkan sebuah masa kecil tanpa tekanan untuk mendapatkan like atau komentar pujian. Bayangkan anak-anak yang kembali sibuk dengan lutut yang lecet karena jatuh dari sepeda, bukan hati yang lecet karena dikomentari jahat oleh orang asing di internet. Larangan ini mencoba mengembalikan esensi kepolosan tersebut. Tujuannya bukan untuk membuat anak menjadi gagap teknologi, melainkan untuk memastikan mereka matang secara mental terlebih dahulu sebelum terjun ke hutan belantara digital yang buas.
Bagi kita di Indonesia, wacana dari Prancis ini bisa menjadi bahan renungan yang sangat berharga. Apakah kita sudah cukup melindungi anak-anak kita? Mungkin kita belum sampai pada tahap pelarangan total oleh negara, namun kontrol orang tua di rumah adalah benteng pertahanan pertama. Mari kita jadikan isu ini sebagai momentum untuk lebih bijak memfasilitasi akses digital bagi buah hati, memastikan mereka tumbuh menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar pengguna yang rapuh.
Next News

Tak Punya Pohon Kakao, Tapi Swiss Jadi Raja Cokelat Dunia, Ini Rahasianya
in 5 hours

Di Balik Keputusan Elon Musk Membungkam Sisi Liar Grok
in 4 hours

Strategi Evelyn Afnilia Membidik Momen Emas Lebaran 2026 Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
in 3 hours

FIX! Jakarta Masuk Daftar, BTS Resmi Gelar Tur Dunia 2026!
in 3 hours

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
in 42 minutes

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
an hour ago

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
18 minutes ago

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
3 hours ago

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
19 hours ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
20 hours ago





