Di Balik Senyum Filter: Budaya Flexing yang Diam-Diam Menguras Kita


Semakin banyak yang pamer, semakin banyak yang merasa kalah—begini riuhnya etalase hidup digital. Gelombang flexing kembali ramai di media sosial, menghadirkan parade pencapaian dan gaya hidup mewah yang sering tak sejalan dengan kenyataan, memicu rasa iri, lelah, dan tekanan sosial baru.
Di linimasa, foto liburan eksotis dan unboxing barang branded muncul beruntun, seolah jadi mata uang baru untuk menunjukkan "siapa yang paling berhasil". Fenomena ini makin menonjol dalam dua tahun terakhir, terutama di kalangan pengguna muda yang menjadikan validasi online sebagai kebiasaan harian.
Beberapa pakar komunikasi menilai tren ini bukan sekadar pamer, tetapi bentuk kebutuhan pengakuan. "Flexing itu seperti tepuk tangan instan. Cepat bikin senang, tapi cepat hilang," ujar Dira Maheswari, peneliti media sosial. Ia menyebut, tekanan itu bisa menggeser batas antara jujur dan pura-pura.
Dampaknya terasa jelas. Banyak pengguna mengaku cemas saat melihat linimasa penuh pencapaian orang lain. Studi perilaku digital yang beredar memperlihatkan lonjakan rasa tidak aman dan perbandingan sosial, terutama ketika konten "hidup sempurna" muncul tanpa henti. Beberapa komunitas online bahkan mulai kampanye anti-flexing demi menjaga ruang yang lebih sehat.
Pada akhirnya, media sosial tetap cermin—kadang jernih, kadang retak. Kita yang memilih apa yang ingin dipantulkan. Bila ingin linimasa lebih ramah jiwa, mungkin sudah waktunya menurunkan volume pamer, dan menaikkan ruang bagi yang nyata.
Next News

Alasan Kenapa Makanan Bioskop Lebih Mahal Daripada Tiket Film Yang Dijual
10 hours ago

Kenapa Film Horor Selalu Laris di Indonesia? Membedah Fenomena Genre Paling Konsisten
14 hours ago

Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?
11 hours ago

Kenapa Ada Orang Harus Dengar Musik Agar Bisa Konsentrasi?
8 days ago

Alasan Medis Kenapa Toleransi Pedas Tiap Orang Berbeda
8 days ago

Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya
9 days ago

Tren Belanja Online Warga Surabaya: Dari Marketplace ke Live Shopping
9 days ago

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
20 days ago

Trotoar Berbagi: Dilema Pedagang Kaki Lima Antara Hak Ekonomi dan Hak Pejalan Kaki
20 days ago

Graffiti: Seni atau Perusak Lingkungan?
20 days ago

