Ceritra
Ceritra Warga

Di Balik Senyum Filter: Budaya Flexing yang Diam-Diam Menguras Kita

- Thursday, 30 October 2025 | 03:00 PM

Background
Di Balik Senyum Filter: Budaya Flexing yang Diam-Diam Menguras Kita

Semakin banyak yang pamer, semakin banyak yang merasa kalah—begini riuhnya etalase hidup digital. Gelombang flexing kembali ramai di media sosial, menghadirkan parade pencapaian dan gaya hidup mewah yang sering tak sejalan dengan kenyataan, memicu rasa iri, lelah, dan tekanan sosial baru.


Di linimasa, foto liburan eksotis dan unboxing barang branded muncul beruntun, seolah jadi mata uang baru untuk menunjukkan "siapa yang paling berhasil". Fenomena ini makin menonjol dalam dua tahun terakhir, terutama di kalangan pengguna muda yang menjadikan validasi online sebagai kebiasaan harian.


Beberapa pakar komunikasi menilai tren ini bukan sekadar pamer, tetapi bentuk kebutuhan pengakuan. "Flexing itu seperti tepuk tangan instan. Cepat bikin senang, tapi cepat hilang," ujar Dira Maheswari, peneliti media sosial. Ia menyebut, tekanan itu bisa menggeser batas antara jujur dan pura-pura.


Dampaknya terasa jelas. Banyak pengguna mengaku cemas saat melihat linimasa penuh pencapaian orang lain. Studi perilaku digital yang beredar memperlihatkan lonjakan rasa tidak aman dan perbandingan sosial, terutama ketika konten "hidup sempurna" muncul tanpa henti. Beberapa komunitas online bahkan mulai kampanye anti-flexing demi menjaga ruang yang lebih sehat.


Pada akhirnya, media sosial tetap cermin—kadang jernih, kadang retak. Kita yang memilih apa yang ingin dipantulkan. Bila ingin linimasa lebih ramah jiwa, mungkin sudah waktunya menurunkan volume pamer, dan menaikkan ruang bagi yang nyata.

Logo Radio
🔴 Radio Live