Ceritra
Ceritra Update

Bukan Upacara, Gibran Pilih Mancing Mania: Cara Asyik Merayakan Semangat Pemuda di Era Digital

- Monday, 27 October 2025 | 03:00 PM

Background
Bukan Upacara, Gibran Pilih Mancing Mania: Cara Asyik Merayakan Semangat Pemuda di Era Digital

Setiap tanggal 28 Oktober, ingatan kita selalu ditarik mundur ke momen sakral Sumpah Pemuda. Biasanya, gambaran yang muncul di benak kita adalah upacara bendera, pidato-pidato membara tentang persatuan, atau mungkin diskusi panel yang serius di gedung-gedung pemerintahan. Tapi tunggu dulu, di Bekasi, ceritanya agak beda. Alih-alih mengikuti tradisi yang kaku, Gibran Rakabuming Raka, sosok yang kini tak pernah luput dari sorotan publik, memilih jalur yang lebih 'membumi' dan jauh dari kesan formal. Ia memutuskan untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan menghadiri acara Mancing Mania yang bikin heboh warga Bekasi. Bayangkan, aroma amis ikan berpadu dengan tawa renyah, bukan janji-janji manis dari podium. Sebuah perayaan yang tak biasa, namun mungkin justru terasa lebih 'nyantol' di hati banyak orang, terutama kaum muda.

Acara Mancing Mania itu sendiri, jujur saja, bukan event kaleng-kaleng di kalangan penghobi. Ini adalah ajang kumpul-kumpul para pemancing, dari yang senior sampai yang baru belajar melempar joran, untuk adu nasib dan keterampilan di pinggir kolam atau danau. Suasana kompetitif terasa, tapi tak menghilangkan semangat kebersamaan dan guyub. Di Bekasi yang padat merayap, kegiatan seperti ini menjadi oase tersendiri, tempat melepas penat dan menyalurkan hobi. Nah, kehadiran Gibran di tengah-tengah keramaian itu, tentu saja, langsung bikin pecah suasana. Dari sekadar bisik-bisik "Eh, itu Mas Gibran, ya?" sampai riuh rendah sapaan dan permintaan foto bareng, energinya menular. Ini bukan hanya tentang mancing, tapi tentang menjalin silaturahmi, tentang merayakan kebersamaan yang tulus tanpa sekat formalitas.

Melihat Gibran dengan pakaian santai, jauh dari jas rapi atau batik formal, langsung membuat citranya semakin dekat dengan masyarakat. Ia datang bukan untuk memberi ceramah, melainkan untuk berinteraksi, menyapa, dan bahkan mungkin ikut melempar umpan, meskipun cuma sekadar iseng. Senyum ramahnya yang tak sungkan diumbar, ditambah kemauannya untuk meladeni permintaan swafoto atau sekadar berjabat tangan, menunjukkan bahwa ia tak pake jaim (jaga image). Gaya komunikasi langsung dan informal inilah yang menjadi poin plus. Di tengah obrolan ringan tentang umpan terbaik atau teknik mancing yang ampuh, terselip pesan-pesan penting yang tak terasa menggurui. Sebuah pendekatan yang jitu untuk menyampaikan esensi Sumpah Pemuda yang kerap kali terasa berat jika disampaikan dalam format yang terlalu formal.

Lantas, apa hubungannya Mancing Mania dengan semangat Sumpah Pemuda? Di sinilah letak geniusnya. Sumpah Pemuda identik dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan cita-cita luhur membangun bangsa. Nah, mancing, meski terlihat sederhana, adalah miniatur dari nilai-nilai tersebut. Butuh kesabaran, fokus, dan yang terpenting, kebersamaan. Saat seorang pemancing berhasil mendapatkan ikan besar, sorak sorai dukungan teman-teman di sekitarnya adalah bukti nyata dari persatuan dalam suka cita. Gibran memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan bahwa semangat kepemudaan bukan cuma ada di buku sejarah atau upacara resmi. Ia hidup di tengah-tengah kegiatan positif seperti ini, di mana anak muda bisa berkumpul, berinteraksi, dan saling menguatkan, jauh dari hiruk pikuk media sosial yang kadang bikin penat.

Pilihan Gibran untuk merayakan Sumpah Pemuda dengan cara yang tidak biasa ini bisa jadi merupakan sebuah strategi komunikasi yang cerdas. Di era serba digital dan serba cepat ini, pesan-pesan kebangsaan perlu disajikan dengan kemasan yang lebih relevan dan mudah dicerna, terutama oleh generasi muda. Daripada pidato panjang yang mungkin dianggap membosankan, kehadiran langsung di tengah-tengah komunitas yang sedang beraktivitas positif akan lebih mudah 'nyantol'. Ini adalah bentuk interaksi langsung yang sangat berarti, menjembatani jarak antara seorang figur publik dengan rakyatnya. Sebuah pesan persatuan yang disampaikan sambil tertawa di pinggir kolam, di bawah terik matahari, jauh lebih berkesan ketimbang deretan kata-kata formal dari balik podium yang megah. Ini tentang relevansi, bagaimana menerjemahkan semangat 1928 ke konteks 2023.

Bisa jadi, ada yang bilang ini hanya gimik politik. Tapi, terlepas dari spekulasi itu, esensinya jauh lebih dalam. Gibran, sebagai figur publik, punya kesempatan untuk memilih. Dan ia memilih untuk membaur, berinteraksi, dan merasakan langsung denyut nadi kegiatan komunitas lokal. Ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap inisiatif masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan positif. Politik itu sejatinya tidak melulu soal intrik dan debat panas, tapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin bisa hadir, tersenyum, dan tertawa bersama rakyatnya di pinggir kolam pemancingan. Ini adalah cara 'membumi' yang efektif untuk menunjukkan bahwa semangat kepemudaan adalah milik semua, dan bisa dirayakan dengan cara apa saja, asalkan substansi persatuan dan kemajuan tetap terjaga.

Dampak dari kehadiran Gibran di Mancing Mania ini tentu saja tidak sepele. Pertama, acara tersebut otomatis naik kelas, mendapat sorotan yang lebih luas. Kedua, para peserta, terutama kaum muda, merasa dihargai dan didengar. Ini memberikan suntikan motivasi bagi mereka untuk terus aktif dalam kegiatan positif dan membangun komunitas yang kuat. Sebuah contoh nyata bahwa seorang pemimpin bisa dekat, tidak berjarak. Pesan-pesan mengenai persatuan dan semangat kepemudaan jadi terasa lebih hidup, bukan sekadar jargon tanpa makna. Mungkin bagi sebagian besar yang hadir, mereka berpikir, "Oh, begini toh cara bersatu yang asyik dan tidak membosankan." Ini menginspirasi, menunjukkan bahwa kebersamaan bisa terjalin dari mana saja, bahkan dari hobi yang sederhana sekalipun.

Pada akhirnya, Mancing Mania di Bekasi yang dihadiri Gibran Rakabuming Raka ini bukan sekadar kegiatan memancing biasa. Ia bertransformasi menjadi sebuah medium perayaan Sumpah Pemuda yang segar, inovatif, dan jauh dari kesan kaku. Ini adalah bukti bahwa semangat kebangsaan dan persatuan bisa disampaikan dan dirayakan dengan berbagai cara, asalkan tetap relevan dengan zaman dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Mungkin inilah "wajah" perayaan Sumpah Pemuda masa kini: dari joran yang diayun, umpan yang dilempar, sampai senyum yang terpancar, semangat persatuan dan kebersamaan tetap sama. Sebuah pengingat bahwa kebersamaan sejati bisa lahir dari mana saja, bahkan dari hobi yang mengasyikkan seperti memancing.

Logo Radio
🔴 Radio Live