Ceritra
Ceritra Uang

Berhenti Jadikan Net Worth Sebagai Tolok Ukur Self Worth Kamu!

Nisrina - Monday, 09 March 2026 | 03:15 PM

Background
Berhenti Jadikan Net Worth Sebagai Tolok Ukur Self Worth Kamu!
Ilustrasi (debtwave.org/)

Pernah nggak sih kamu merasa kalau isi dompet lagi tebal, atau minimal saldo di m-banking masih ada digit yang bikin tenang, rasanya jalan jadi lebih tegak? Sebaliknya, pas tanggal tua melanda dan saldo tinggal sisa-sisa perjuangan, mendadak kita merasa jadi manusia paling nggak berguna di muka bumi. Kalau kamu pernah merasakannya, selamat, kamu nggak sendirian. Fenomena ini bukan cuma soal manajemen keuangan yang buruk, tapi sudah masuk ke ranah psikologi keuangan yang cukup dalam: ketika kekayaan menjadi sumber harga diri.

Di zaman sekarang, apalagi dengan gempuran media sosial yang isinya pamer lifestyle sana-sini, garis antara "siapa kita" dan "apa yang kita punya" itu makin tipis. Kita sering nggak sadar kalau identitas kita sudah terpatri kuat pada aset yang kita miliki. Padahal, kalau mau jujur-jujuran, uang itu benda mati yang nggak seharusnya menentukan nilai kemanusiaan kita, kan? Tapi ya namanya manusia, godaan buat merasa "lebih" karena punya uang itu emang nyata adanya.

Jebakan "Net Worth" yang Dikira "Self-Worth"

Dalam psikologi keuangan, ada istilah yang cukup ngeri-ngeri sedap, yaitu Money-Identity Fusion. Ini adalah kondisi di mana seseorang sudah nggak bisa lagi membedakan nilai dirinya sebagai manusia dengan jumlah kekayaan yang dia punya. Bagi mereka, kalau net worth atau kekayaan bersih mereka tinggi, maka self-worth atau harga diri mereka juga ikut naik ke awan. Tapi begitu hartanya berkurang sedikit saja, harga dirinya bisa langsung terjun bebas ke dasar jurang.

Kenapa ini bisa terjadi? Seringkali karena kita hidup di lingkungan yang memang memuja materi. Coba perhatikan, deh, saat kumpul keluarga atau reuni sekolah. Pertanyaan yang muncul biasanya nggak jauh-jauh dari "Kerja di mana?", "Mobilnya apa?", atau "Sudah cicil rumah di mana?". Jarang banget ada yang tanya, "Kamu bahagia nggak dengan dirimu sekarang?". Secara nggak langsung, masyarakat memberikan validasi kalau orang sukses adalah orang yang punya banyak duit. Akhirnya, kita mengejar angka di rekening bukan cuma buat bertahan hidup, tapi buat beli pengakuan.

Masalahnya, pengakuan yang dibeli pakai uang itu sifatnya semu. Kita jadi kayak haus terus, nggak pernah merasa cukup. Istilah kerennya adalah Hedonic Treadmill. Kita terus berlari mengejar barang-barang mewah supaya merasa berharga, tapi begitu barang itu didapat, rasa senangnya cuma sebentar. Besoknya kita butuh barang yang lebih mahal lagi buat memicu hormon bahagia yang sama. Capek, kan?

Flexing dan Budaya Pamer yang Merusak Mental

Kalau kita ngomongin soal uang dan identitas, nggak lengkap kalau nggak bahas fenomena flexing. Sekarang, orang seolah-olah wajib menunjukkan apa yang mereka makan, ke mana mereka liburan, sampai apa merek tasnya. Tujuannya satu: membangun citra diri sebagai orang "berada". Identitas mereka dibangun dari opini orang lain. "Wah, si A keren ya, jam tangannya seharga rumah subsidi," atau "Si B hebat banget, tiap bulan healing-nya ke luar negeri."

Padahal, banyak juga lho yang terjebak dalam gaya hidup yang dipaksakan. Demi terlihat punya identitas sebagai orang kaya, banyak yang rela terjebak pinjol atau kartu kredit yang limitnya sudah megap-megap. Ini yang bahaya. Ketika harga diri digantungkan pada benda-benda yang sebenarnya kita nggak mampu beli, kita sedang membangun fondasi hidup di atas pasir. Sekali kena ombak krisis ekonomi, identitas kita langsung hancur berkeping-keping.

Kita sering lupa kalau orang-orang yang benar-benar kaya secara psikologis biasanya justru nggak merasa perlu membuktikan apa-apa ke orang lain. Mereka nggak butuh validasi lewat postingan Instagram karena mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka tahu bahwa nilai mereka nggak ditentukan dari berapa banyak orang yang iri melihat gaya hidup mereka.

Dampak Buruk Saat Uang Menjadi Tuan Atas Diri

Ada harga mahal yang harus dibayar saat kita menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya sumber harga diri. Pertama, kita jadi gampang cemas. Bayangkan, kalau harga dirimu cuma bergantung pada uang, setiap kali ada fluktuasi ekonomi, kamu bakal merasa hancur secara personal. Kehilangan pekerjaan bukan lagi soal kehilangan sumber pendapatan, tapi rasanya kayak kehilangan nyawa. Kita jadi merasa gagal total sebagai manusia.

Kedua, hubungan sosial kita jadi transaksional. Kita mulai menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka punya. Kita cuma mau berteman sama orang-orang yang "selevel" atau yang bisa memberi keuntungan materi. Akibatnya, hubungan yang tulus dan bermakna jadi makin langka. Kita jadi kesepian di tengah keramaian, karena nggak ada orang yang benar-benar mengenal diri kita yang asli tanpa embel-embel jabatan atau kekayaan.

Ketiga, kita kehilangan kreativitas dan gairah hidup. Semua yang kita lakukan orientasinya cuma cuan, cuan, dan cuan. Kita nggak lagi melakukan hobi karena kita menikmatinya, tapi karena kita pikir itu bisa menghasilkan atau meningkatkan status sosial kita. Hidup jadi terasa sangat mekanis dan membosankan.

Belajar Memisahkan Angka dan Identitas

Lalu, gimana caranya supaya kita nggak terjebak dalam lingkaran setan ini? Langkah pertamanya adalah sadar dulu. Sadar kalau kamu itu lebih dari sekadar angka di saldo ATM. Kamu adalah manusia yang punya cerita, punya empati, punya keahlian, dan punya nilai-nilai yang nggak bisa dibeli pakai uang.

Cobalah untuk mencari sumber harga diri yang lain. Misalnya, lewat hobi yang bikin kamu merasa hidup, lewat relasi yang sehat dengan orang-orang tersayang, atau lewat kontribusi sosial yang nggak ada hubungannya dengan pamer harta. Coba deh sesekali digital detox, matikan media sosial yang isinya bikin kamu merasa "kurang" terus. Fokus pada apa yang benar-benar membuatmu merasa puas secara batin, bukan apa yang membuat orang lain kagum.

Uang itu alat, kawan. Fungsinya buat memudahkan hidup, bukan buat mendefinisikan siapa kamu. Jangan sampai pas uangnya hilang, kamu juga merasa kehilangan diri sendiri. Karena pada akhirnya, pas kita meninggalkan dunia ini, yang diingat orang bukan berapa banyak saldo terakhir kita, tapi seberapa besar dampak baik yang kita tinggalkan dan seberapa tulus kita sebagai manusia.

Jadi, mumpung masih muda, yuk mulai atur lagi pola pikir kita soal uang. Punya banyak harta itu bagus, tapi punya jiwa yang merdeka tanpa harus bergantung pada validasi materi itu jauh lebih keren. Jangan biarkan dompetmu yang bicara soal siapa kamu, biarkan karakter dan perbuatanmu yang mendefinisikannya.

Logo Radio
🔴 Radio Live